Oleh: Irpan Maulana
Aswaja, atau Ahlussunnah wal Jamaah adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada keyakinan dan praktik keagamaan yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad dan para sahabatnya.
Dalam konteks Islam, Aswaja merupakan pilar penting dalam memahami dan melaksanakan ajaran Islam secara komprehensif.
Istilah ini sering dikaitkan dengan ajaran Sunni yang merupakan salah satu dari dua cabang utama Islam, yang lainnya adalah Syiah.
Istilah Ahlussunah wal Jama'ah terdiri dari tiga kata, yaitu ahl, assunah dan al-jama'ah yaitu; Dalam Kamus al-munjid fil Lughah wal A'alam kata ahl mnegandung dua makna. Selain bermakna keluarga dan kerabat, ahl juga dapat berarti pemeluk aliran atau pengikut madzhab.
Menurut istilah syara as-sunah ialah sebutan bagi jalan yang disukai dan dijalani dalam agama sebagaimana dipraktikkan Rasulullah SAW, baik perkataan, perbuatan ataupun persetujuan Nabi Muhammad SAW
Al-jama'ah menurut syara' lalah kelompok mayoritas dalam golongan islam.
Dari pengertian etimologis di atas, maka makna Ahlussunnah wal Jama'ah dalam sejarah islam adalah golongan terbesar umat islam yang mengikuti system pemahaman islam, baik dalam tauhid dan fiqih denganmengutamakan dalil Al- Qur'an dan hadist daripada dalil akal.
Untuk menguatkan pengertian diatas terdapat bebarapa hadits yang diantaranya diriwayatkan oleh imam ibnu majah yang artinya "meriyampaikan Rasulullah SAW akan pecah umatku menjadi 73 golongan, yang selamat satu golongan, dan sisanya akan hancur, ditanya siapakah yang selamat Rasulullah?
Beliau menjawab Ahlussunnah wal Jama'ah, beliau ditanya lagi apa maksud dari Ahlussunnah wal Jama'ah? Beliau menjawab; golongan yang mengikuti sunahku dan sunah shahabatku".
Dalam hadist lain juga disebutkan "berpegang teguhlah kamu semua dengan sunah mu dan sunnah khulafaur rasyidin yang semuanya memnperoleh petunjuk sesudahkau (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
1. Kepatuhan kepada Sunnah
Ajaran Aswaja menekankan pentingnya mengikuti sunnah (tradisi) Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari. Ini mencakup aspek ibadah, akhlak, dan muamalah.
2. Ijma dan Qiyas
Aswaja mengedepankan metode ijma (kesepakatan ulama) dan qiyas (analogi) dalam penentuan hukum Islam. Hal ini memungkinkan umat untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar.
3. Toleransi dan Moderasi
Salah satu nilai penting dalam Aswaja adalah sikap toleransi terhadap perbedaan. Ajaran ini mendorong umat Islam untuk hidup rukun dengan penganut agama dan kepercayaan lain.