Namun kini makin berlarut di setiap isu penyerangan yang muncul. Lihat saja kasus fufufafa sebenarnya hal yang sangat receh (dilihat materinya), juga terkait dengan jet pribadi yang ditumpangi Kaesang dan Bobby. Pendukung setianya sekarang sibuk memberi alasan pembenar. Mereka menjelaskan. Sayangnya, materi penjelasan tidak sinkron yang membuat makin kacau dan aneh.
Fufufafa semula dianggap akun milik Gibran tapi sudah lama tidak dipakai karena lupa passwordnya, lalu digunakan orang yang tidak bertanggungjawab. Soal kapan mulai tidak dipakai tidak dijelaskan. Lalu berubah dikatakan itu bukan milik Gibran meski akun rekeningnya jelas atas nama Gibran (meski sudah diganti sebagai nama Slamet). Ini bukan soal materinya, melainkan substansinya yakni soal integritas.
Pemimpin yang baik akan selalu berani bersikap jujur mengakui. Gibran, misalnya, mengakui saja itu memang akun miliknya, lalu meminta maaf. Apa salahnya jika dulu (2014) Gibran menyerang Prabowo sebagai kompetitor Jokowi (bapaknya), tapi sekarang mendukung Prabowo? Toh juga banyak relawan Jokowi yang dulu memaki Prabowo tapi kini menjilatnya, seperti PSI?
Lihatlah Kaesang dan Gibran yang menghilang (tepatnya menghindar), namun pendukungnya yang sibuk menjawab mengklarifikasi. Nyaris semua orang kini memojokkan Jokowi dan keluarga. Sebaliknya orang-orang penting nan cerdas pendukung Jokowi justru diam. Prabowo diam, begitupun Airlangga, Zulhas dan Surya Paloh. Mereka tidak berani bersuara atas isu-isu yang menyerang Jokowi seputar IKN dan keluarga.
Budiman Sudjatmiko, Maruara Sirait, mereka bungkam atau memang sudah tidak dipakai lagi? Kasihan sebenarnya Jokowi, tapi itulah harga yang harus dibayarnya sebagai politisi yang memiliki hasrat berkuasa berlebih. Relawan dulu membayangkan akan anggun jika Jokowi turun saat masih berposisi di puncaknya. Sangat elegan ketika dia meninggalkan panggung di saat kebintangannya masih bersinar. Tapi kini terlambat sudah.