opini

Ketika Orang Pintar Jadi Jongos

Minggu, 21 Juli 2024 | 12:00 WIB
Ilustrasi orang pintar dengan kecerdasan emosional rendah. (Freepik.com/jcomp)

- Menyambut Pertunjukkan Teater di Jogjakarta: The Jongos

Oleh: Denny JA

“Di Luar Oligarki, Semua Hanyalah Korban.”

Ini kalimat pembuka dari skenario teater yang mengambil judul the Jongos.

Membaca kalimat pembuka itu, seketika saya mengembangkan imajinasi. Oligarkhi di tanah air begitu sering dibicarakan. Naskah ini mungkin kritik sosial atas praktek oligarkhi yang ada, terhadap kondisi ekonomi dan politik yang semakin didominasi oleh segelintir orang saja.

Judul The Jongos itu juga membangkitkan dugaan. Apakah pertunjukkan teater kali ini ingin membuka mata, betapa kini orang- orang pintar, intelektual, aktivis, politisi hanya menjadi The Jongos saja, menjadi babu saja dari majikan penguasa?

Sayapun membaca cuplikan awal dialog karakter di naskah itu.

KOTTO:

“Ya wajar dong! Karena hanya orang berkuasa dan kaya yang berhak marah!”

BUSRIL:

“Tapi kita juga berhak tersinggung dan marah?”

KOTTO:

“Oh ya enggak, (pause) Hak kita hanya untuk dimarahi. Itulah kodrat jongos yang sejati. Paham?”

BUSRIL:

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB