Oleh: KH Cholil Nafis
Seorang fakih, Imam Syafi'i penulis kitab Ushul Fiqh pertama dengan judul kitab Ar-Risalah. Semua orang yang belajar ilmu fikih pasti mengenalnya dengan kitabnya Al-Umm.
Sebuah kitab yang dinisbatkan kepada ibunya sebagai ungkapan cintanya, sekaligus adalah kitab yang menggambarkan sebagai ibu dari masalah-masalah fikih.
Ulama yang dikenal kontekstualis yang meramu antara tekstualis dan substansial ini umur hidupnya tak terlalu panjang, ialah 54 tahun.
Ia lahir tahun 150 Hijriah dan wafat 204 H. Namun torehan ilmunya dikenang sepanjang masa hingga saat ini.
Imam Syafi’i dikenal dengan sangat cerdas. Menurut sebagian riwayat, sekali mendengar beliau langsung hafal. Namun demikian masih mengeluh karena lemahnya hafalannya.
Sebuah sya’ir yang sangat terkanal dari Imam Syafi’i saat mengeluh kepada gurunya, Imam Waki’ karena merasa pelupa.
شكوت إلى وكيع سوء حفظي فأرشدني إلى ترك المعاصي وأخبرني بأن العلم نور ونور الله لا يهدى لعاصي
Aku mengeluhkan kepada guruku Waki’ soal lemahnya ingatanku, maka guruku menasehatiku agar meninggalkan maksiyat.
Guruku mengajariku bahwa ilmu itu cahaya Allah dan cahaya Allah tidak mungkin mengarah pada orang yang maksiat”.
Bagaimana membayangkan orang cerdas mengeluhkan merasa menjadi pelupa dan orang wara’ dinasihati agar meninggalkan maksiat.
Sebuah ilustrasi bahwa kita harus terus rendah hati dan merasa banyak dosa agar terus banyak belajar dan terus selalu mendekatkan diri kepada Allah.
Sebenarnya yang Maha Tahu itu adalah Allah SWT.
Walhamdulillah pagi ini waktu Kairo saya berkesempatan ziarah ke maqam Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’.