opini

Denny JA, Penulis Lari Cepat 100 Meter

Jumat, 7 Juni 2024 | 06:34 WIB
Denny JA Pelukis Pertama di Indonesia dengan Asisten Artificial Intelligence.

Oleh: Denny JA,

Tepat pukul 09.30 saya tiba di Bandara 11 Soekarno Hatta. Alhamdulillah tidak terlambat karena perjalanan dari rumah menuju bandara lancar.

Buru buru cek in saya lalu bergegas menuju gate 4, tempat minum favorite banyak orang, Fore. Disana telah menunggu seorang kawan, Denny JA.

Pagi itu kami akan berangkat ke Kinabalu -lazimnya orang Indonesia menyebutnya Kinibalu-memenuhi undangan penyair kenamaan Malaysia, Datuk Jasni Matlani dan kawan kawan.

Datuk Jasni seorang penggerak puisi Esai, genre puisi yang dilahirkan Denny, telah lama mengharapkan Denny datang ke Kinabalu untuk menyaksikan perkembangan puisi esai di Sabah.

Saya diajak oleh Denny karena saya termasuk penulis awal puisi Esai. Buku puisi Esai saya “Manusia Gerobak”, termasuk generasi pertama puisi Esai, cukup digemari banyak orang.

Seorang mahasiswi UIN tahun 2014, hanya setahun setelah buku terbit, menjadikan buku itu sebagai bahan skripsinya.

Saat sedang mencari ruangan tempat kami ketemu, tiba tiba saya mendengar suara.
“ Hai elza, apa kabar, silahkan duduk”. Rupanya Denny JA.

Ia sedang berdiri sambil kedua salah satu tangannya memegang HP. Saya pun memilih salah satu tempat duduk. Pagi itu Café masih sepi. “ Sudah dengar Joko Pinurbo meninggal,” kata Denny, memulai percakapan.

Saya menjawab “ Sudah, saya juga baru tahu. Denny kenal baik?” Denny menjawab “ Ya kenal begitu saja. Tapi ia pernah memberi kata pengantar salah satu buku Puisi esai”.

Denny kemudian berkata “ Bentar ya, saya mau menulis tentang Joko. Masih ada waktu”.
Denny kemudian berdiri, membuka HP lalu kedua tangannya sibuk menulis. Kadang ia duduk, tapi kemudian berdiri lagi. Kadang ia berjalan, sambil kedua tangannya sibuk mengetik di HP.

Kadang keningnya mengkerut tanda ia sedang berpikir keras. Saya heran Denny menulis dengan HP, bukan laptop. Generasi kami biasanya kurang lancar jika menulis dengan HP. Beda dengan gerenasi Z.

Tak lama kemudian HP saya berdering. Rupanya WA Dari Denny. Denny kemudian berkata. “ Sudah jadi tulisan saya Elza, silahkan baca”. Saya kemudian membaca tulisan Denny.

Waah, tulisannya bagus. Ia dengan gamblang menjelaskan tentang Joko, pemikiran dan karya karyanya. Saya ingin bertanya bagaimana ia bisa menulis secepat itu. Tapi urung karena kami harus boarding dan naik pesawat.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB