Selanjutnya BK ke Yogyakarta. Di Kota Gudeg dan wilayah di mana Kraton Ngayogyakarta ini tegak kukuh hingga sekarang, BK menjadi aktor penting di balik pendirian Partai Indonesia (1931) yang berideologikan "Marhaenisme", di mana visun perihal hakikat dan martabat "manusia" (human dignity) serta pemihakannya yang teguh kepada kaum teraniaya dan tertindas, di bawah spirit sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi, sungguh-sungguh terbit dan menginspirasi gerakannya.
Di Endeh (1934-1938) BK diasingkan. Tujuan Penjajah Kolonialisme Belanda hanya satu: menghancurkan mental BK hingga luluh lantak.
Tapi sejarah kemudian bicara lain: justru Endeh, menjadi "rumah pemulihan" BK, wadah permenungan, ruang refleksi, dan tempat di mana BK melakukan proses dan meraih transendensi-intelektual yang puncak.
Embrio Pancasila yang jejak episteme-nya sejak di Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta merekah, justru terakumulasi jenial di Endeh.
Membaca Surat-surat Islam dari Endeh dan Tonil-Tonil karya BK di Endeh, kita pun dapat menyaksikan betapa kuatnya benturan konflik dan ketegangan interpretasi antara Islam "sontoloyo" dan Islam "progresif" di satu sisi, serta konstruksi prefigurasi, konfigurasi, dan refigurasi "pesan-pesan" Tonil di lain sisi.
Setidaknya ada empat oase dan telaga permenungan BK di Endeh yang kelak menjadi "ilham" pidato "Lahirnya Pancasila" dalam sidang BPUPK 1 Juni 1945 yang sangat monumental itu.
Pertama, "Oase Intelektual" di Perpustakaan Biara St. Joseph. Di sana BK, diberi akses seluas-luasnya oleh kepala biara untuk melahap, mengkaji, dan menelaah pikiran, gagasan, teori, serta doktrin tertentu keagamaan, filsafat, gerakan sosial, dan sejarah.
Kedua, "Oase antropos-kultural-historis" di bawah Puu Karara (pohon sukun). Permenungan BK perihal Kejayaan Nusantara klasik sebagai pemilik peradaban raksasa yang direpresentasi oleh Sriwijaya dan Majapahit dalam sejarah yang panjang, membuat BK bangkit dan penuh percaya diri "meneriakkan" gemuruh keyakinannya dalam kesenyapan permenungan, agar bangsa ini terbebas dari penjajahan kolonialisme Belanda yang telah lama menghina, menindas, mengeksploitasi kehormatan dan membunuh rakyat yang dikasihinya.
Ketiga, "Oase Transendental-intuitif" di bilik semadhi atau ruang shalat di Rumah Pengasingan. Di bilik ini BK lebih pada actus "menengok ke dalam diri" (inward looking), tafakur, dzikir, menajamkan intuisi batin, dan menggairahkan kepekaan nurani.
Keempat, "Oase sosio-spiritual" di Masjid ar-Rabithah di pusat Kota Endeh. Di masjid ini, di samping untuk keperluan ritual salat rawatib berjamaah dan salat jumat serta interaksi langsung dengan masyarakat, BK juga melakukan proses spiritualisasi intens serta memupuk pengalman "ketercelupan ontologis" di dan "bersama" Tuhannya.
Endeh, sebab itu, dapat dipandang sebagai "tanah pilihan" Tuhan, guna "menempa" BK baik secara intelektual, moral, sosial, kultural, historikal maupun spiritual. Di titik ini, tak berlebih jika mengandaikan "Endeh sebagai rahim Pancasila."