Demikian pula Islam menekankan kekeluargaan universal manusia: “Wahai manusia sesungguhnya Kami mencipatakan kamu dari seorang pria dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Sesungguhnya yang termulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa....” (Al-Quran).
Ekspresi globalitas Islam ini sekaligus menampik perasaan lebih Islami oleh sebagian pengikutnya karena defenisi ras atau bangsa.
Islam memberikan ruang kepada semua pengikutnya untuk menjadi terbaik. Tidak menutup kemungkinan seorang China Muslim akan lebih Islami dibandingkan seorang Arab Muslim.
Islam sendiri menempatkan semua dasar-dasarnya dengan penampilan global. Tuhan dalam Islam itu “Rabbil alamin” atau “Rabunnaas”.
Muhammad SAW itu adalah “rahmatan lil-alamin” dan diutus kepada seluruh manusia (kaafatan linnaas). Dan Al-Quran itu adalah petunjuk bagi seluruh manusia (hudan linnaas).
Makna ketiga dari panggilan “kemanusiaan” haji adalah bahwa Islam adalah agama dengan pemeluk yang paling mengglobal. Di mana saja di pelosok dunai ini akan ada pemeluk agama ini.
Bahkan di daerah atau negara yang paling terpencil sekalipun. Itulah sebabnya ayat yang memerintahkan Ibrahim mengumandangkan kewajiban haji Allah menyampaikan bahwa kelak manusia akan datang ke haji ini dari seluruh penjuru dunia (min kulli fajrin ‘Amin”.
Karenanya haji sekali lagi merupakan ekspresi paling nyata dari “the global nature of Islam” (universalitas Islam). Bahwa Islam bukan agama bangsa/ras tertentu. Bukan agama Arab. Bukan pula agama Nusantara. Karenanya tidak perlu merasa paling hebat Islamnya karena identitas lokal itu.
Keempat, haji itu merupakan komitmen “al-kamaliyah” (kesempurnaan) dalam berislam. Artinya ketika seserang melakukan ibadah haji dia sesungguhnya membangun komitmen untuk menjadi Muslim yang sempurna.
Ada beberapa alasan dari kesimpulan ini. Kata haji misalnya yang berasal dari kata “hajja-yahujju”, selain melahirkan kata “hajjun dan hijjatun” yang berarti “perjalanan ke tempat yang jauh” juga melahirkan kata “hujjatun” yang berarti “bukti, alasan”. Maknanya bahwa haji akan menjadi bukti (hujjah) ke sempurnaan Islam seseorang.
Selain itu haji yang ditetapkan sebagai rukun Islam terakhir dan hanya sekali dalam hidup juga membuktikan bahwa haji itu memang komtmen keislaman yang menyeluruh (sempurna).
Tapi saya kira argumen terkuat dari poin ini adalah relasi antara haji dan Ibrahim AS. Kita kenal bahwa Ibrahim adalah nabi yang dikenal ketaatannya. Bahkan dikenal dengan komitmen kesempurnaan dalam menjalankan perintah-perintah Tuhannya.
“Dan ingatlah ketika Ibrahim dicoba oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah) dan dia menyempurnakan (dalam melaksanakan) perintah itu” (al-Quran).
Keterkaitan Ibrahim AS dengan amalan-amalan haji menggambarkan secara kuat jika haji memang merupakan komitmen kesempurnaan dalam berislam.
Ini pulalah dasarnya ketika haji yang benar (mabrur) balasannya dijamin dengan syurga. Karena memang jaminan syurga itu hanya dengan ketakwaan yang sejati (haqqa tuqatih).