opini

Haji Itu Miniatur Kehidupan Manusia

Rabu, 29 Mei 2024 | 08:00 WIB
Ilustrasi suana Kabah di tanah suci (Yasir Gürbüz/pexels.com)

Hidup dunia itu adalah berusaha (sa’aa). Tiada yang didapatkan kecuali dengan usaha. Berbeda dengan akhirat yang semuanya adalah hasil. Kerja baik hasilnya baik. Sebaliknya kerja buruk juga hasilnya buruk.

Tapi satu hal yang harus diingat di saat melakukan usaha. Berusaha tidak berarti menentukan hasil. Apapun dan sehebat apapun usaha kita, yang menentukan hasil akhirnya adalah Dia yang mengatur (al-Mudabbir) langit dan bumi.

Itulah yang terjadi dalam sejarah Ibu Ismail, Hajar AS. Beliau berlari mencari air, bahkan dari bukit ke bukit lainnya. Usahanya berhasil. Karena upaya positif pasti hasilnya positif pula. Tapi hasil hasil itu Allah yang menenukannya.

Wukuf (berhenti sejenak) adalah bentuk refocusing dan rediscovering diri kita sebagai manusia. Dalam proses menemukan diri itu kita akan menemukan kembali Allah, memahami kembali makna tauhid dalam hidup.

Demikian seterusnya, mabit di Muzdalifah dan Mina merepresentasi pertarungan abadi antara manusia dan musuhnya (Iblis). Muzdalifah mengajarkan bahwa pertarungan ini memerlukan persiapan lahir batin. Dilanjutkan dengan pertarungan itu, yang dimulai dengan memerangi musuh terbesar (Jumrah aqabah).

Semua amalan ritual haji itu yang berakhir dengan tawaf wada’ sebagai simbolisasi komitmen untuk mengakhiri hidup dunia ini dengan “husnul khatimah”. Meninggalkan kehidupan duniawi ini dengan komitmen ubudiyah di atas “laa ilaaha illallah”.

Semua ini menggambarkan bahwa ibadah haji merupakan gambaran kecil atau miniatur hidup manusia secara menyeluruh. Melaksanakan ibadah haji ibarat melakukan pelatihan hidup secara menyeluruh, dari kelahiran hingga kematian.

Ketiga, haji itu merupakan ekspresi globalitas atau universalitas Islam. Hal yang pasti adalah ekspresi “perintah” haji dalam Al-Quran selalu memakai kata “an-naas” (manusia) dan bukan “Mukminuun” atau “Muslimun”.

“Dan kamandangkan kepada manusia tentang kewajiban haji, nuscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan dan mengendarai onta-onta jinak (dhoomir). Mereka datang dari pelosok-pelosok yang jauh” (Al-Quran).

“Dan bagi Allah atas manusia melakukan ibadah haji ke Baitullah bagi yang mampu melakukannya” (Al-Quran).

Penggunaan kata “an-naas” menunjukkan bahwa haji merupakan ekspresi universalitas Islam yang tegas. Maka pada haji itulah akan tergambar umat Muhammad SAW sebagai global citizen (penduduk global). Semua bentuk manusia dalam keragamannya hadir menyatu sebagai satu kesatuan (ummah wahidah).

Ada tiga makna penting dari simbolisasi ini. Satu, bahwa haji menggambarkan “equalitas” sejati. Karenanya di tanah suci semua malakukan hal sama dengan perasaan yang sama. Datang sebagai Muslim dan hamba Yang Maha Satu.

Maka sangat wajar deklarasi kesetaraan manusia didengunkan pertama kali di Padang Arafah oleh Baginda Rasulullah SAW dan di saat melaksanakan haji. Deklarasi ini dikenal dalam sejarah Islam dengan “Khutbatul Wada’”.

Makna kedua dari pemaknaan globalitas ini adalah bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kemanusiaan itu.

Dan karenanya ketika menggambarkan “kemuliaan” (karomah) manusia, Allah menekankan aspek insaniyah “Sungguh Kami (Allah) telah muliakan anak cucu Adam”.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB