Ketika memulai berihram, Ikrar pertama yang akan dilantungkan adalah “labbaik allahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk. Laa syariik laka labbaik”. Ucapan atau Ikrar ihram ini disimpulkan dalam Kalimah “Laa ilaaha illa Allah”.
Sepanjang hidupnya seorang Muslim menegakkan sholat dengan menghadapkan wajahnya ke sebuah titik poin yang tetap (kiblat). Di saat berhaji para jamaah justeru berada langsung di depan Ka’bah Al-Musyarrafah. Ada ikatan batin dengan Rumah Tua (al-baet al-atiiq) itu.
Seseorang yang tidak mampu menunaikan zakat berarti belum memenuhi syarat kewajiban haji. Karena jika membayar zakat saja belum mampu bagaimana dia akan mampu menunaikan ibadah haji dengan “Zaad” (ongkos) yang tidak sedikit? Maka berhaji juga menandakan kemampuan berzakat.
Puasa itu esensinya “menahan” (al-imsak). Tentu menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dan segala hal yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Dalam berhaji menahan itu diharuskan.
“Maka barangsiap yang melakukan haji maka tiada rafats (kata kotor), tiada fusuuq (dosa-dosa), dan tiada jidaaal (berargumen).
Di saat menjalankan ibadah haji, dzikir dan tasbih maupun tahlil dan takbir menjadi amalan dominan. Semua amalan ini menjadi esensi ubudiyah kita kepada Allah SWT.
Dari semua itu dapat kita simpulkan bahwa haji itu merupakan kesimpulan semua ibadah dalam Islam. Dengan berhaji berarti seorang Muslim memilki tekad penuh untuk melaksanakan semua kewajiban ibadahnya kepada Allah SWT.
Kedua, haji itu merupakan gambaran kecil (miniatur) kehidupan manusia. Segenap amalan haji itu menggambarkan “perputaran hidup” (cicle of life) dari sejak terlahir pertama kali hingga akhir hidup dunia dengan kematian.
Manusia semuanya tanpa kecuali terlahir dalam keadaan suci (fitri). “Semua anak terlahir dalam keadaan fitrah “Semua anak terlahir dalam keadaan suci” (Hadits).
Kefitrahan inilah yang tersimbolkan dalam amalan awal dari haji dengan ihram. Fitrah itu essensinya pada pengakuan “alastu bi Rabbikum? Qaaluu balaa”.
Ikrar tauhid untuk menyembah hanya kepada sang Pencipta. Ihram dengan “talbiyah” esensinya juga merupakan afirmasi “tauhid” seperti yang disebutkan terdahulu.
Hidup manusia itu berputar. Tidak pernah statis dan terus dalam pergerakan. Gerakan dan perubahan sejatinya menjadi tabiat (nature) kehidupan.
Karenanya akan terjadi gerakan atau perubahan hidup terus menerus. Bahkan pada diri manusia sekalipun. Perubahan dari bayi menjadi remaja, dewasa, tua dan mati.
Tawaf itu adalah pergerakan mengelilingi Ka’bah. Gerakan yang terjadi terus menerus mengikut arah yang telah ditentukan. Hidup adalah tawaf. Berputar dalam hidup secara konstan (terus menerus). Tapi satu hal yang harus diingat.
Dinamika apapun yang terjadi di saat thawaf, jangan lupa Ka’bah harus tetap menjadi “sentra” perputaran itu. Dalam dinamika hidup jangan lupa Allah tetap menjadi “pusat” kehidupan (as-somad).