opini

Media Massa Menjadi Alat Kontrol Paling Elit Di Dunia Modern

Rabu, 28 Februari 2024 | 14:09 WIB
Menkominfo Johnny G Plate menggelar konferensi soal TVRI di Kantor Kominfo, Jakarta, Jumat (6/12/2019). ( antarafoto)

Oleh : Zulfa Y

Salah satu dampak dari modernisasi adalah munculnya sistem masyarakat yang mudah dikendalikan melalui media masa. Ini menjadi celah bagi para elit kapitalis untuk tetap berkuasa dibalik layar, tanpa perlu menunjukan muka, hanya dengan mengendalikan opini publik lewat media masa dan kebudayaan populer saja. Jika kalian penggemar berat Teori Konspirasi, tentu kalian tahu bahwa dibalik sistem pemerintahan, sistem perbankan, sistem keuangan, bahkan dibalik industri hiburan yang kini memenuhi segala lini kehidupan kita, ada sekelompok kecil elite yang mengendalikan semuanya.

Baca Juga: Mengobarkan Semangat untuk Saling Menghargai dalam Toleransi Beragama

Dan media masa salah satu alat kontrol untuk memuluskan agenda dan melanggengkan kekuasaan mereka.

Sebenarnya bagaimana sistem kontrol masyarakat melalui seperti ini bisa tercipta?
Ini dimulai sejak dekade 1920-an yang lalu, dimana saat itu Revolusi Industri 2.0 terjadi sehingga berdampak pada munculnya pabrik pabrik produksi berskala besar dimana mana.

Kemunculan Industri pabrik ini akhirnya memunculkan banyak kota kota besar baru yang membentuk manusia yang serba sibuk, serba bekerja padat, dan ini akhirnya menggeser peran desa. Arus Urbanisasi menjadi besar masyarakat lebih suka tinggal di kota dari pada di desa karena disana mereka bisa bekerja dan mendapatkan gaji lebih banyak padahal kehidupan kota dengan desa sangatlah berbeda, masyarakat desa tipe masyarakat Komunal dan mereka hidup dalam Koherensi ( keteraturan yang harmonis ) dan saling terintegrasi satu sama lain.

Baca Juga: Konsumsi Wortel Berkhasiat Turunkan Resiko Kanker

Sedangkan masyarakat kota adalah masyarakat yang individualistis dan mereka saling terpisah. Banyaknya industri pabrik membuat masyarakat kota menjadi mekanis,monoton,dan teralienisasi. Hubungan dengan orang lain juga jadi berjarak, bersifat kontrak,dan aporadis.

Kemajuan industri pabrik membuat komunitas desa menjadi hancur, diiringi dengan
hancurnya agama dan bangkitnya sekularisasi.
Ini akhirnya berdampak pada hilangnya organisasi sosial perantara seperti keluarga, gera (rumah ibadah ), tetua di desa. Akibatnya manusia jadi bertindak sesuka hatinya dan meraka jadi semakin sedikit memiliki komunitas atau institusi yang bermanfaat untuk menemukan
jati diri atau nilai nilai hidup.

Baca Juga: Manfaat Konsumsi Wortel Bagi Kesehatan Mata

Akhirnya semakin sedikit yang memiliki gagasan mengenai cara hidup yang layak dan bermoral. Dampak negatifnya masyarakat jadi renyah terhadap manipulasi dan eksploitasi dari lembaga lembaga kalang elite, seperti media massa contohnya. Inilah yang menjadi celah bagi kaum kapitalis untuk mengendalikan pola pikir
masyarakat sehingga mereka tetap di atas dan orang lain tetap dibawah. Salaj satu caranya adalah dengan pemanfaatan media massa dan bombardir budaya populer. Media masa dan budaya populer tanpa kita sadari telah lama menyetir pola pikir masyarakat agar kita terus menerus menjadi kelas pekerja, tanpa kita sadar kalau kita sebenernya memiliki potensi lebih dari sekedar kelas pekerja yang melelahkan.***

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB