Ibarat Si Lebai Malang, di hulu tak dapat, ke hilir dianggap sudah ketinggalan. Begitulah, kata Markenun tentang nasibnya yang malang setiap kali ingin merayakan acar tahun baru. Padahal, kalender Masehi atau Anno Domini (AD) dalam bahasa Inggris itu adalah sebutan untuk penanggalan atau penanda tahun dari kalender Gregorius dan Julius. Kalender Masehi ini mengacu pada bilangan tahun tradisional sejak kelahiran Yesus dari Nazaret. Sebelum itu disebut tahun Sebelum Masehi (SM). Dalam sejarahnya penanggalan ini sempat didempurnakan pada tahun 1582 hingga disebut kalender Gregorian. Sebutan Masehi sendiri, kata Markenun berkisah berasal dati bahasa Arab, yaitu artinya membasuh. Mengusap atau membelai, seperti makna Al Masih.
Anno Domini sendiri maknanya adalah "Tahun Tuhan". Yang unik memang perhitungan kalender Masehi yang mengacu pada perputaran bumi yang mengelilingi matahari. Berbeda dengan kalender Hijriyah, didasarkan pada gerakan bulan mengelilingi bumi.
Pada dasarnya, kedua jenis penanggalan itu -- Kalender Masehi dan Kalender Hijriyah adalah untuk menandai waktu hingga bilangan abad yang dapat dijadikan patokan untuk menghitung siklus perubahan yang selalu berulang, seperti masa kejayaan bangsa Nusantara.
Setidaknya, siklus tujuh abad keempat sekarang ini, bisa dipercayai akan segera muncul tokoh kaliber dunia yang kharismatik dan akan menjadi panutan umat manusia yang semakin gamang meneguhkan jati dirinya sebagai makhluk yang paling mulia di muka bumi. Dan sosok pemimpin kaliber dunia ini -- setara Nabi -- akan muncul dari bumi Nusantara, kata Markenun seakan sedang meyakinkan kebimbangan saya yang selalu enggan memberi komentar atas pendapat maupun permenungan filsafat hingga vibrasi spiritual yang tampak menggelegak dari segenap ekspresi serta segenap pembuluh darahnya.
Inilah perenungan akhir tahun yang perlu dan penting, meski tampa bingkisan akhir tahun yang indah, kata Markenun seperti sedang berupaya menjinakkan rasa nelangsa untuk dirinya sendiri.
Aku pun terpana takjub dan kagum melihat semangat yang menggelegak dalam dirinya terus membara untuk menghadapi semua keriuhan dan kegaduhan, seperti mereka yang tengah asyik menyambut acara perayaan tahun baru yang telah berulang kali terjadi dan kembali berulang. Sementara diujung langit Utara, kubayangkan kembang api segera akan bertaburan. Dan nilai harganya tidak perlu dikonversi dengan harga beras yang sudah lebih dulu ke langit.***