opini

Piagam Madinah dan Penghianatan Kaum Yahudi: Asal-Usul Teori Konspirasi

Jumat, 15 Desember 2023 | 08:17 WIB

"Bawakan kitab suci itu (Taurat) kepadku", kata Nabi.

Karena Nabi SAW tidak bisa membaca dan menulis, maka mereka harus menunjuk seseorang yang akan membacakan Taurat itu di hadapan Nabi.

Adalah Abdullah Ibnu Salam, salah seorang mantan Rabi, yang telah bersyahadat ketika Nabi baru datang di Madinah, yang sekarang duduk di samping Nabi ketika peristiwa penting ini terjadi.

Orang inilah yang ditunjuk untuk membacakan Taurat. Ketika sampai pada ayat tentang hukuman rajam bagi pezina, Nabi meletakkan telunjuknya pada ayat itu, sebagai isyarat agar mantan Rabi ini mengulangi bacaannya, untuk menegaskan bahwa hukuman rajam bagi pezina tercantum dalam Kitab Taurat.

Sekarang jebakan mereka ketahuan. Lalu dengan tergagap mereka mengatakan:

"Jika orang besar berzina, kami harus melepasnya, tapi jika orang biasa yang berzina, kami harus merajamnya. Dan kami tidak suka hal itu, jadi kami harus membuat hukum baru agar bisa diterapkan pada semua orang."

Nabi SAW kemudian mengambil keputusan, kedua pezina itu harus dihukum rajam.

Ini adalah pertama kalinya selama ratusan tahun, orang Yahudi menyaksikan hukuman rajam sampai meninggal, dimana mereka sendiri telah melupakannya.

"Inilah orang pertama yang berani menegakkan hukum Taurat".

Itulah kesimpulan para Rabi. Dan mau tidak mau, inilah bukti yang terang benderang bahwa orang ini pastilah seorang Rasul. Namun mereka tidak mau menerimanya. Mengapa mereka menolaknya?

Jika dia seorang Yahudi, mereka akan mengakui Muhammad SAW sebagai Rasul. Tapi dia orang Arab. Jadi mereka tidak mau menerimanya. Orang Yanudi mengklaim sebagai umat pilihan Tuhan, dan selain mereka, termasuk orang Arab, adalah umat kelas bawah. Mereka memang memiliki ego rasial yang sangat tinggi sampai hari ini.

Mereka juga berkeras menolaknya, karena jika Muhammad yang orang Arab adalah seorang Rasul, implikasinya adalah kitab mereka, Taurat, berisi kebohongan-kebohongan, dan mereka belum siap untuk menerima kenyataan bahwa Kitab Sucinya telah ditulis ulang, sehingga telah banyak berisi kebohongan.

(Untuk mendalami subjek ini direkomendasikan membaca buku Richard Freedman, berijazah S3 dari Harvard dalam bidang keilmuan Bibel, yang telah menulis buku berjudul: _Who Wrote the Bible?_. Dalam buku itu, Freedman membenarkan apa yang Allah nyatakan dalam Alquran. Dengan membaca buku ini kita akan mengerti kegundahan dan kebingungan para Rabi itu).

Allah dan para penghuni langit telah menunggu momen ini, yaitu momen ketika mereka menolak kerasulan Muhammad SAW.

Momen itu adalah satu-satunya pintu ampunan bagi mereka: jika mereka mengakui dan menerimanya, Allah akan mengampuninya.

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB