Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, Christopher H. Achen dan Larry M. Bartels menerbitkan buku penting: Democracy for Realists: Why Elections Do Not Produce Responsive Government (2016).
Buku ini menggucang pengandaian bahwa dalam demokrasi pemilih adalah warga rasional yang menilai kualitas kandidat, mempelajari program, mengevaluasi kebijakan, lalu memilih yang tepat.
Pemilu menjadi katalis yang menghubungkan pilihan rasional dan kepemimpinan responsif.
Bagi kedua penulis, realitas tak sesederhana itu. Pilihan politik lebih sering dibentuk oleh identitas, loyalitas kelompok, afeksi, pengalaman hidup, simbol-simbol kedekatan.
Banyak pemilih bahkan tak memiliki informasi memadai dan tetap mendukung atau menolak pemimpin terlepas dari kinerjanya.
Karena itu, masalah demokrasi bukan pada rakyat yang kurang rasional, melainkan pada harapan berlebihan terhadap kemampuan individu memahami kompleksitas politik modern.
Pelajaran ini relevan bagi Indonesia. Demokrasi tak boleh berhenti sebatas pemilu dan tak bisa disehatkan hanya dengan mengharap juru selamat.
Kita terlampau percaya pada niat tulus pemimpin dan kemampuan rakyat memilih yang terbaik.
Kita kerap menggantungkan harapan pada figur kuat dan visioner, seolah satu orang dapat menuntaskan seluruh persoalan bangsa.
Padahal negara baik bukan yang sesekali melahirkan pemimpin luar biasa, melainkan yang tetap berjalan dengan manusia biasa.
Maka, demokrasi tak seharusnya diandaikan pada keterpilihan yang terbaik, melainkan pada penguatan institusi: haluan negara sebagai konsensus bersama, partai politik sehat, birokrasi profesional, pengadilan independen, media bebas, masyarakat sipil aktif sebagai pengaman siapa pun yang terpilih.
Politik pencitraan bukan masalah utama manusia memang merespons simbol dan figur.
Masalah muncul ketika pencitraan menggantikan institusi, popularitas mengalahkan kapasitas, dan reputasi menggeser akuntabilitas.
Artikel Terkait
Tayang di TVRI, Kisah Romantis Senja dan Raka dalam Film Pendek Langit Biru
Lima Tahun Jabar Bergerak Zillenial, Atalia Praratya Apresiasi Konsistensi Gerakan Anak Muda
Menengok Curug Cipanangkeus, Potensi Wisata Tersembunyi di Lokasi KKN Unsil Tasikmalaya
Dekatkan Akses Pendidikan, SDN Pasir Keuleuwih Gandeng SMP IT Nahdlatul Fata
Memadukan Pendidikan Umum dan Pesantren, SMP IT Nahdlatul Fata Darusyifa Cetak Generasi Unggul di Cianjur
BPKP Temukan Potensi Pemborosan Rp 5,9 Miliar dalam Belanja Kesehatan di Cianjur
Anak Bukan Milik Kita, Anak Milik Allah Sepenuhnya
Regulasi Diperketat, Disdikpora Cianjur Larang Kelas Shift Ganda dan Pungutan dalam SPMB 2026/2027
Mutiara Pagi: Di Antara Dua Bintang (Bagian 2233)
Seni Menemukan Kedamaian di Tengah Riuhnya Pikiran