nasional

Alghifary Bilal : Catatan Kecil Kearifan Lokal "Ngarak Barong" di Sudut Bekasi yang Terlupakan

Rabu, 16 November 2022 | 11:14 WIB
Tari Barong Bekasi. (SM/Nugroho DS)

JournalNusantara.com - Diriku dilahirkan di salahsatu kota di daerah Jawa Barat yang sudah berdiri sejak tahun 1950 yaitu Kota Bekasi. Ketika itu, penduduk Kota Bekasi didominasi oleh suku sunda dan aktivitas sehari-hari menggunakan bahasa sunda.

Tetapi, karena dekat dengan Kota Jakarta dan seiring pesat proses migrasi penduduk sebagian besar masyarakatnya lebih didominasi oleh suku Betawi.

Melihat dari sejarah Kota Bekasi terdapat beberapa tradisi atau budaya lokal yang menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa ini. Budaya lokal adalah bagian utama terciptanya budaya nasional dan budaya daerah yang merupakan kekayaan negara yang sangat tinggi, hingga perlu dilindungi serta perlu dilestarikan oleh semua masyarakat. 

Baca Juga: Lisnawati : Tradisi Bangkong Reang sebagai Tanda Syukur kepada Allah SWT

Namun pada kenyataannya sebagian masyarakat belum menyadari sesungguhnya nilai budaya lokal merupakan jati diri serta ruh bangsa, hal ini direpresentasikan pada semua aspek. Di tengah proses perubahan yang hebat, maka eksistensi sebuah nilai budaya setempat harus dijaga dan dilestarikan.

Oleh karena itu, harus menjadi panduan kehidupan warga negara Indonesia pada umumnya dan masyarakat Bekasi khususnya (Widiansyah & Hamsah, 2018). Terdapat beberapa tradisi dan budaya di Kota Bekasi, sehingga telah ditetapkan dinas pariwisata dan kebudayaan Jawa Barat yaitu tradisi ngarak barong dan babaritan, sebagai warisan adat istiadat masyarakat, ritual dan perayaan-perayaan. 

Melihat budaya ngarak barong yang sudah mulai punah keberadaannya, hal ini dikarenakan oleh beberapa sebab yaitu para leluhur yang sudah meninggal, belum ada yang dapat mewarisi pembuatan barong, dan rendahnya kepedulian kaum milenial terhadap budaya lokal.

Baca Juga: Rivaldi : Efektifkah Membaca Koran Kovensional di Zaman Sekarang ?

Seharusnya diadakan gerakan agar budaya Ngarak Barong kembali menarik perhatian di masyarakat luas. Budaya atau cultur menurut (Setiadi, 2012) adalah suatu atau totalitas yang kompleks dan meliputi wawasan, kesenian, kepercayaan, keilmuan, moral, hukum, adat istiadat, maupun kebiasaan yang menjadi rutinitas manusia sebagai anggota di masyarakat.

Ngarak barong termasuk kedalam kesenian tradisional. Kesenian tradisional lahir dari kebutuhan didalam masyarakat yang meliputi beragam kesenian tradisional (Kayam, 1981). 

Ngarak barong memang tidak asing bagi warga bekasi, tetapi asing bagi yang lainnya. Ngarak barong adalah kegiatan parade masyarakat yang dilakukan setelah lebaran hari pertama maupun hari kedua, biasanya dilakukan di minggu pertama dan seterusnya, dengan tujuan menjalin silahturahmi kepada seluruh saudara.

Baca Juga: Toni Hermawan : Media Masa Mainstream, Peluang dan Tantangan di Tengah Pesatnya Media Online

Ngarak barong yang ada di Bekasi merupakan kesenian yang turun menurun dijalankan oleh para seniman yang berada di lingkungan Bekasi yang digambarkan pada sepasang Barong, yang dirias memakai kedok atau topeng dengan karakter wajah seram dan
menakutkan. ***

Penulis:
Alghifary Bilal R (1214070007)
MHU 3A FDK UIN Bandung

Tags

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB