Secara psikologis, manusia antagonis seringkali menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang tidak stabil dan tidak mampu menempatkan diri dalam konteks sosial yang sehat.
Mereka mungkin memiliki kebutuhan untuk mendapat perhatian lebih (attention-seeking) atau mungkin merasa terancam oleh orang lain dan meresponsnya dengan sikap defensif atau menyerang.
Perilaku ini bisa dipicu oleh faktor-faktor seperti trauma masa lalu, ketidakpastian identitas, atau ketidakpuasan dengan kehidupan mereka. Dalil Al-Qur'an tentang Kepribadian Negatif, Allah berfirman:
وَيْلٌۭ لِّلْمُطَفِّفِينَ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ وَإِذَا كَانُوا۟ هُمْ أَوْ وَزَنُوا۟هُمْ يُخْسِرُونَ
"Kecelakaan besar bagi orang yang curang, (yaitu) orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi."
(QS. Al-Mutaffifin: 1-3)
Ayat ini mengkritik perilaku curang yang menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain. Perilaku manusia antagonis yang cenderung mencari sensasi atau memperburuk situasi sosial sering kali memiliki niat atau motif yang sama, yakni keuntungan pribadi, meski dengan mengorbankan keharmonisan bersama. Mereka tidak menghargai nilai keadilan dan kebaikan sosial.
2. *Manusia Antagonis dalam Perspektif Medis*
Dalam ilmu medis, perilaku antagonis atau kontroversial bisa dilihat sebagai manifestasi dari gangguan kepribadian, seperti gangguan kepribadian narsistik, antisosial, atau bahkan histrionik.
Individu dengan gangguan kepribadian ini cenderung berperilaku dramatis, menginginkan perhatian, dan tidak memiliki empati terhadap orang lain.
Dalil Al-Qur'an tentang Sifat Kebencian dan Keinginan untuk Menyebar Fitnah. Allah berfirman:
إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَادَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَٰءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِ فَهَلْ أَنتُمْ مُّنتَهُونَ
"Sesungguhnya syaitan itu bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian dengan meminum khamr dan berjudi, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan dari salat. Maka apakah kalian akan berhenti?"
(QS. Al-Mā’idah: 91)
Ayat ini menjelaskan bagaimana syaitan berusaha menimbulkan permusuhan di antara manusia. Hal ini sangat relevan dengan manusia antagonis yang cenderung mencari sensasi atau konflik untuk menarik perhatian, memicu pertentangan, dan menciptakan kegaduhan.
Dalam konteks ini, mereka mungkin terperangkap dalam perilaku destruktif yang tidak hanya merugikan diri mereka sendiri tetapi juga masyarakat.
3. *Perilaku Antagonis dalam Perspektif Sosial dan Filosofis*
Filosofis, manusia antagonis adalah mereka yang cenderung tidak puas dengan status quo dan merasa perlu untuk mengubah atau merusak norma yang ada.
Mereka mungkin merasa tidak dihargai atau ingin menegaskan superioritas mereka dengan cara yang kontroversial. Fenomena ini memunculkan ketegangan dalam masyarakat karena mereka meruntuhkan nilai-nilai dasar keharmonisan sosial.
Dalil Hadits tentang Dampak Perkataan yang Menyebabkan Kerusakan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"مَنِ اتَّبَعَ سَبِيلَ الْمُعَارِضِينَ فَأَفْسَدَ بَيْنَ النَّاسِ فَإِنَّهُوَ مِنْ أَهْلِ الْنَّارِ"
"Barang siapa yang mengikuti jalan orang yang suka mengkritik dan merusak hubungan antara umat manusia, maka dia termasuk penghuni neraka."
(Hadits Riwayat Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa merusak hubungan sosial, seperti yang dilakukan oleh manusia antagonis, dengan sengaja menyebarkan kebencian, menyalahkan pihak lain, atau menciptakan konflik, akan berdampak buruk baik bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan. Islam mengajarkan untuk menjaga perdamaian dan menghindari fitnah yang bisa memecah belah umat.