JOURNALNUSANTARA.COM - Tasikmalaya, sebuah kota di Jawa Barat, dikenal kaya akan berbagai kerajinan tangan yang memiliki nilai seni tinggi. Salah satu kerajinan yang sudah terkenal hingga ke luar daerah adalah Payung Geulis.
Nama Payung Geulis berasal dari dua kata dengan makna yang berbeda. "Payung" merujuk pada alat pelindung dari hujan dan panas, sementara "Geulis" berarti cantik atau menarik. Secara keseluruhan, Payung Geulis bisa diartikan sebagai payung yang indah dan enak dipandang.
Baca Juga: Siap Hadapi Jeram Ciamis? Paket Arung Jeram Hemat untuk Petualangan yang Menggugah
Menurut informasi yang dihimpun dari Wikipedia, Payung Geulis pertama kali diciptakan oleh seorang warga bernama H. Muhyi pada tahun 1930 di Kelurahan Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya. H. Muhyi sendiri adalah seorang tokoh masyarakat yang dihormati pada masa itu, dikenal sebagai pribadi yang memiliki kekayaan yang cukup melimpah.
Awalnya, H. Muhyi membuat Payung Geulis untuk keperluaan berlindaung dari terik matahari dan hujan pada saat pergi ke ladang. Karena kreasi yang unik dan menarik, lantaran adanya gambar motif bunga dan dedaunan, payung yang dipakai H. Muhyi menarik perhatian orang banyak dan menjadi inspirasi bagi warga lainnya yang kemudian membuat payung yang sama.
Baca Juga: Grand Aston Puncak Sambut Tahun Baru 2026 dengan Perayaan 'Starlight Carnival'
Payung Geulis sendiri terbut dari rangkaian rangka bambu. Setelah dirangkai, kemudian rangka bambu dipasangi kertas. Bagian ujung payung dirapikan dengan menggunakan kanji. Agar menarik, rangka bagian dalam diberi benang warna-warni. Proses ini disebut ngararawat.
Proses pembuatan Payung Geulis ini bergantung pada sinar matahari, karena setelah diberi kanji, payung dijemur hingga keras. Payung kemudian diberi warna, serta dilukis dengan corak bunga.
Semua proses pembuatan Payung Geulis dibuat secara manual dengan buatan tangan ataub handmade, kecuali gagang payung yang dibuat dengan menggunakan mesin.
Baca Juga: Orientasi Politik PKB Cianjur, Tekankan Ideologi Aswaja dan Peran Partai untuk Kesejahteraan Rakyat
Pewarnaan payung juga dilakukan dengan sangat apik dan teliti. Bahan yang digunakannya pun merupakan pewarna alami dari tumbuhan atau bahan-bahan organik lainnya.
Payung Geulis bukan hanya sebuah alat praktis untuk melindungi dari cuaca buruk, tetapi juga merupakan simbol keindahan dan keanggunan. Tidak heran, saat ini Payung Geulis dipakai sebagai ornamen hiasan ruangan.
Selain itu, Payung Geulis juga memiliki nilai budaya yang mendalam. Pembuatan payung ini telah menjadi tradisi turun temurun di kalangan masyarakat Tasikmalaya. Proses pembuatannya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadikannya bagian penting dari warisan budaya lokal.