life-style

BUAH PIKIR KI SUNDA: Bukan Nostalgia, tapi Kompas Masa Depan

Minggu, 24 Mei 2026 | 20:03 WIB
Leuit Baduy, Rumah Padi yang Jadi Simbol Kemakmuran dan Ketahanan Pangan

Oleh: R. Julian Faluzia (Si Pangsi Toetoeng)

Menghidupkan Kembali Kesadaran dan Semangat Spiritual untuk Membangun Manusia dan Peradaban Sunda di Abad 21

Mari kita sama-sama membongkar bagaimana “Ki Sunda” bekerja sebagai sistem berpikir, lalu menerjemahkannya jadi metode praktis untuk pendidikan, ekonomi, dan tata kelola hari ini dan nanti.

Pertama kali kita bongkar miskonsepsi bahwa Ki Sunda = masa lalu yang mati.

Siapa Ki Sunda?

Ki Sunda itu bukan siapa dan dari mana, tapi sistem operasi dari buah pikir yang sangat mendalam. Ki Sunda hadir sebagai “semangat panduan” kebudayaan Sunda.

Kenapa saat ini gagal dipahami bahkan malah ditinggalkan? Karena kesalahan terbesar melihat Ki Sunda hanya sebagai tarian, baju adat, dan lomba-lomba saja yang lebih ke arah seremonial.

Padahal, kalau mau melihat lebih jauh ke pemajuan kebudayaan yang mencakup histori/sejarah, esensi, dan filosofinya, Ki Sunda adalah KOMPAS etika, ekologi, dan ekonomi.

Kalau hilang, Sunda jadi penumpang di negerinya sendiri. Sunda akan kehilangan arah ke jati dirinya, kehilangan sosok panutan atau kepemimpinan, serta arah konsep pembangunannya.

Ki Sunda bukan sekadar hanya bernostalgia akan kebanggaan akan para leluhur dan warisannya saja, tapi PENENTU ARAH bagi masyarakat Sunda itu sendiri dalam berkehidupan.

Baik hubungan manusia dengan Sang Hyang (Sang Maha Tunggal / Allah SWT), manusia dengan manusia dan makhluk hidup lainnya, serta manusia dengan alam dan lingkungannya.

Buah pikir Ki Sunda itu fleksibel, tidak kaku tapi luwes, dan sebenarnya sangat bisa dilakukan serta dirasakan sendiri oleh seluruh masyarakat Sunda. Namun, bukan berarti kita harus kembali ke masa lalu.

Secara etnografi kritis dan desain sistem yang diperbaharui sesuai dengan kemajuan zaman, tidak ada salahnya dilakukan rekayasa ulang atau rekayasa peradaban Sunda.

Seandainya Ki Sunda adalah sosok manusia, mungkin saat ini akan merasa sedih melihat SUNDA TERLUKA atas identitasnya.

Halaman:

Tags

Terkini

Mutiara Pagi: Kembali pada Diri (Bagian 2274)

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB

Mutiara Pagi: Prasangka (Bagian 2256)

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:37 WIB