Para bijak pernah berpetuah:
“Cinta sejati bukan mencari yang sempurna,
melainkan merangkul retakan,
sebagai mozaik yang membentuk keindahan.”
Marilah kita ziarahi negeri tercinta,
lewat jejak para pemimpin kita,
dengan cinta yang tak menutup mata,
namun jangan sampai kehilangan makna
Pertama:
Ia adalah api yang menyalakan obor kemerdekaan,
orator yang meniupkan nyali ke dada bangsa
Namun api itu juga membakar,
dan dalam kobaran karisma,
rakyat pun terbuai dalam bayangan besar,
dari putra sang fajar
Kedua:
Ia bagaikan sawah yang hijau,
menyuburkan negeri dengan cahaya berkilau,
menyediakan nasi di piring rakyat,
namun hijau pun berubah pekat,
ketika tangan besi menutup suara,
seolah negeri ini hanya milik segelintir kuasa
Ketiga:
Ia seperti burung bersayap teknologi,
membawa bangsa menatap lazuardi,
dengan kebebasan pers dan demokrasi
Namun sayap itu terlalu rapuh,
oleh badai politik yang begitu tangguh,
hingga terbangnya begitu singkat,
meninggalkan gema hanya sesaat
Keempat:
Ia seperti mata air yang jernih,
menyembuhkan luka akibat selisih
Perbedaan asal dan keturunan siapa
semuanya diberi hak yang sama
Tapi kejernihan itu juga berubah
oleh ketidakteraturan sejumlah langkah,
hingga banyak yang tak sabar,
menunggu arah ke jalan yang benar
Kelima:
Ia adalah bunga,
yang tumbuh dari akar sejarah,
kecintaannya kepada bangsa
menjadi penghubung warisan sang ayah
Namun sering dipandang kaku,
karena diamnya seperti membeku,
dianggap tak mendengar,
oleh mereka yang kurang sabar
Keenam:
Ia seperti senja yang indah,
dengan kata yang menyejukkan dada
Namun sering dipandang bimbang,
karena terlalu lama menimbang,
hingga bangsa menunggu dalam gamang
Ketuju:
Ia cermin tukang kayu sederhana,
hendak membangun rumah mewah
Namun dipandang salah ukur,
akibat langkah yang kurang terukur
Dan dalam kesederhanaan itu,
jalan terasa sempit dan buntu,
karena janji-janji yang diucapkan
masih banyak yang belum ditunaikan
Kedelapan:
Ia adalah seorang prajurit,
yang lama menanggung rasa sakit,
kini dipercaya memegang kunci istana,
dengan keberanian yang ada di pundaknya
Namun bayangan masa lalu masih menyelimuti,
seakan-akan berat untuk menyuruh pergi
sehingga rakyat bertanya-tanya:
mungkinkah bayang-bayang itu bisa sirna?
Marilah sama-sama menyadari,
bahwa cinta sejati pada negeri ini,
bukan mencari pemimpin yang sempurna,
melainkan merangkul tiap jejak mereka,
sebagai pelajaran, sebagai cermin,
sehingga membuat kita yakin:
bahwa ketidaksempurnaan mereka
yang membentuk kesempurnaan bangsa
Malang, 4 September 2025
Salam sehat,
M. Sinal