Journalnusantara.com - Militer Iran, dikenal dengan nama resmi Artesh (tentara reguler) dan Sepah-e Pasdaran-e Enghelab-e Islami (Pasukan Pengawal Revolusi Islam atau IRGC), merupakan salah satu kekuatan militer paling berpengaruh di Timur Tengah.
Sejak Revolusi Islam 1979, Iran terus mengembangkan sistem pertahanan nasionalnya, baik dari segi kekuatan konvensional maupun asimetris.
Angkatan bersenjata Iran terbagi ke dalam empat matra utama: Angkatan Darat (Artesh), Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Pasukan Quds dari IRGC yang bertugas di luar negeri.
IRGC juga memiliki divisi khusus untuk perang siber, rudal balistik, dan pengembangan drone militer.
Iran dikenal memiliki kekuatan rudal terbesar di kawasan, dengan berbagai jenis rudal jarak menengah yang mampu menjangkau target hingga ribuan kilometer.
Strategi pertahanan Iran didasarkan pada konsep “perlawanan aktif” dan “pertahanan dalam kedalaman”, yang mencakup perang tidak simetris dan dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, dan Houthi di Yaman.
Pendekatan ini membuat Iran sulit diserang langsung tanpa konsekuensi geopolitik yang luas.
Selain itu, embargo dan tekanan internasional justru mendorong Iran untuk memperkuat industri militer dalam negerinya.
Negara ini kini mampu memproduksi tank, pesawat tanpa awak, sistem pertahanan udara, hingga kapal perang ringan secara mandiri.
Meski menghadapi sanksi ekonomi dan isolasi internasional, militer Iran terus menunjukkan kapasitas deterensi yang kuat.
Kombinasi teknologi domestik, strategi gerilya, dan pengaruh proksi menjadikan Iran sebagai pemain militer kunci dalam dinamika keamanan kawasan Timur Tengah.