Tiga, Kebakaran di LA kali ini mencakup 3 lokasi. Sebagian lokasi ini Kebetulan dihuni oleh para bintang Hollywood sehingga sangat diekspos dan didramatisir.
Eksposur peristiwa ini secara luas dan besar-besaran ini mengindikasikan adanya “systemic racism” (rasisme sistem) yang ada dalam masyarakat Amerika.
Karena korban kebakaran kali ini adalah kelas atas dan mayoritas warga putih maka semua harus merasakan kesedihan dan seharusnya bersimpati dan memberikan dukungan.
Empat, banyak juga eksposur dalam bentuk video-video yang didramatisir, ditambah-tambah dan dengan komentar yang di lebih-lebihkan.
Bahkan sebagian menggunakan “artificial intelligence” untuk mendramatisir peristiwa kebakaran itu. Artinya tidak semua yang kita lihat/baca di berbagai media itu akurat alias hoax.
Lima, sejujurnya saya pribadi tidak terlalu setuju dengan “penghakiman” bahwa peristiwa kebakaran ini karena balasan Allah atas peristiwa genosida dan pengrusakan total (total elimination) di Gaza.
Bagi saya sesuatu yang bersifat “ghoib” (theological in nature) biarlah itu menjadi ranah Tuhan. Saya teringat waktu Tsunami terjadi di Aceh bagaimana sebagian menghakimi bahwa hal itu terjadi karena kemungkaran sudah semakin merajalela di tanah Rencong. Suatu penghakiman yang menurut saya sangat “unethical” (tidak etis) dan senseless (tidak punya perasaan).
Enam, saya justeru semakin tersadarkan bahwa ternyata Amerika mampu menyihir banyak orang untuk memberikan perhatiannya.
Sehingga kebakaran pun menjadi perhatian banyak orang lain yang sebenarnya tidak punya kepentingan apa-apa.
Kalau saja kebakaran ini bahkan mungkin saja menewaskan ratusan bahkan ribuan orang, seperti yang pernah terjadi di Bangladesh, apakah dunia akan seheboh ini?
Tujuh, secara agama (Islam) saya juga mempertanyakan, apakah benar ketika ada orang, bahkan mereka yang tidak disenangi sekalipun, mendapat musibah, kita dianjurkan bertepuk tangan bergembira?
Apakah secara etika, Islam mengajarkan demikian? Saya justeru teringat ketika terjadi Tsunami, justeru yang hadir ke Aceh adalah dua mantan Presiden Amerika; Bill Clinton dan George W Bush Jr.
Delapan, tidakkah kita sadari bahwa di zaman edan keterbukaan media, khususnya media sosial, terlalu mudah dan tanpa beban ada saja pihak-puhak yang dengan sengaja mengedit foto-foto/video, didramatisir lalu diviralkan.
Tidak jarang pula video-video itu kemudian dibumbui pula dengan komentar-komentar yang menggunakan dalil-dalil keagamaan. Dan dengan itu pula kita merasa telah menang mengalahkan musuh (baca: Amerika).
Sembilan, dengan melihat kepada perhatian dan respon luas umat Islam atas peristiwa ini, saya justeru curiga jangan-jangan respon ini adalah bagian dari “inferiority complex” (jiwa inferior) yg melanda umat saat ini. Sebesar, sehebat dan sepenting itukah Amerika di mata umat Islam termasuk umat Islam Indonesia?