internasional

Gencatan Sejata Israel-Hizbullah dan Dunia Global

Minggu, 1 Desember 2024 | 05:07 WIB
Asap dan api mengepul dari sebuah bangunan tempat tinggal yang terkena serangan Israel, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas, di kamp pengungsi Nuseirat, di Jalur Gaza bagian tengah. (REUTERS)

 

Oleh: Shamsi Ali Al-Kajangi

Dunia bisa sedikit legah. Minggu lalu telah terjadi kesepakatan genjatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Tentu menjadi harapan semua pihak hendaknya peperangan yang cenderung melebar di Timur Tengah itu segera dihentikan. Sudah terlalu banyak korban nyawa maupun kerusakan infrastruktur yang belum tentu bisa dibangun kembali dalam kurun waktu yang singkat.

Namun demikian, perlu terus diingat dan disadari bahwa pembantaian dan pembunuhan, baik secara langsung dengan pemboman maupun tidak langsung dengan menahan bantuan kemanusiaan, di Palestina khususnya Gaza terus berlanjut.

Jangan sampai gencatan senjata ini menjadi justifkasi untuk berhenti melakukan tekanan politik dan ekonomi kepada pihak-pihak yang tangannya berlumuran darah; Israel, Amerika dan Barat secara umum.

Sebenarnya saya harus terus mengatakan bahwa dunia Islam juga, khususnya negara-negara di Timur Tengah, tidak lepas dari dosa-dosa yang entah bagaimana menghapusnya.

Kekejaman Israel dan keterbukaan Amerika dan sekutunya yang seolah tanpa beban membantu penjajah zionist itu bisa terjadi karena dunia Islam hanya mampu mengutuk di ruang-ruang sidang dan pertemuan-pertemuan tingkat tinggi.

Pertemuan-pertemuan yang seringkali hanya menjadi ajang pertandingan pidato dan kutukan. Lalu seolah semua telah menjadi pahlawan-pahlawan pembela Palestina.

Bahkan yang paling menyedihkan seringkali statemen-statemen yang disampaikan diruang publik sangat berbeda dengan apa yang terjadi di balik pintu-pintu diplomasi. Statemen-statemen di ruang publik tidak lebih sebagai hiburan (bagaikan sogokan) kepada masyarakat luas yang masih punya perhatian dengan penderitaan Saudara-Saudaranya.

Di balik pintu-pintu diplomasi seringkali yang terjadi adalah pendekatan-pendekatan pragmatis. Biasanya atas nama kepentingan nasional dan keamanan regional. Yang sesungguhnya bagi sebagian adalah demi kelangsungan kepentingan kekuasaan.

Sesungguhnya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah mengekspos beberapa fakta yang harus kita ketahui. Selama ini seolah yang berperang adalah Israel dan Hizbullah. Tapi sejatinya di balik dari dua kubu itu ada kekuatankekuatan global yang punya kepentingan besar.

Sebenarnya kepentingan Israel hanya satu. Semua yang dianggap ancaman di Timur Tengah harus dilenyapkan. Minimal harus dilemahkan. Dan Hizbullah adalah ancaman besar bagi Israel sejak lama.

Namun di balik dari dua kubu yang terlibat langsung itu ada kekuatan-kekuatan global yang tidak pernah puas dengan segala kerusakan yang telah mereka lakukan dalam beberapa dekade terakhir. Siapa lagi kalau bukan kekuatan NATO di bawah komando Amerika dan kekuatan Rusia yang juga sedang membangun Koalisi besar. Salah satunya melalui BRICS.

Kedua kubu besar dunia global ini saling berusaha mendominasi dunia, baik secara politik, ekonomi dan militer. China masuk dalam arena perebutan dominasi ini. Walaupun China bermain lebih cantik dan lebih kepada ambisi dominasi ekonomi dunia.

Halaman:

Tags

Terkini

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB

Tangan Tetap di Pelatuk, Memaksa Zionis Tunduk

Jumat, 10 Oktober 2025 | 07:30 WIB

Delegasi Pesantren Al Masykuriyyah di Uzbekistan

Minggu, 28 September 2025 | 17:48 WIB