Sekiranya semua anggota Dewan Keamanan PBB setuju atas sebuah resolusi atau keputusan, bahkan semua negara-negara anggota dunia, tapi satu dari lima anggota tidak tetap itu menolak maka resolusi itu akan tertolak.
Hak penolakan anggota tetap DK-PBB itu disebut “hak veto” (veto right). Amerika adalah negara tetap DK-PBB yang paling sering memakai hak veto itu, apalagi jika berkaitan dengan pembelaan kepada Israel.
Di sinilah sesungguhnya penampakan realita Amerika. Artinya ada realita yang hanya akan menampakkan diri melalui grasak grusuk hubungan global yang membingungkan ini. Bahwa betapa seringkali negara sebesar dan sekuat Amerika terkontrol oleh kepentingan segelintir yang “sangat kuat”.
Dukungan Amerika yang membabi buta terhadap Israel seringkali tidak mampu dipahami oleh nalar normal manusia. Tapi itulah kenyataan dan realita yang menampakkan diri pada momen-momen seperti saat ini.
Dalam seminggu ini ada dua hal yang mengekspos betapa dukungan Amerika sebagai institusi (bukan masyarakat) kepada Israel begitu “blinded” (terbutakan).
Satu, resolusi US Kongress (DPR) untuk menjadikan slogan: “from the river to the sea, Palestine will be free” ditetapkan sebagai slogan “anti Yahudi” (anti Semitism). Padahal di sisi lain Amerika sangat bangga dengan nilai “kebebasan berekspresi”. Tapi ketika sudah bersentuhan dengan Israel semua menjadi terkalahkan dan terabaikan.
Dua, lagi-lagi Amerika tanpa malu dan tanpa mempertimbangkan kepentingan globalnya sendiri menggagalkan usulan keanggotaan penuh Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lagi-lagi hak Istimewa Amerika sebagai anggota tetap DK (veto right) dipergunakan untuk membela Israel tanpa “reservasi”. Bahkan walaupun dengan kenyataan bahwa dengan veto seperti ini posisi Amerika akan semakin melemah di dunia internasional.
Dengan keputusan veto Amerika ini Palestina kembali gagal menjadi anggota penuh PBB, yang seharusnya punya hak yang sama seperti negara-negara anggota lainnya.
Peristiwa ini mengingatkan saya ketika Timor Timur memenangkan referendum ketika itu. Hanya berselang beberapa hari saja negara itu resmi menjadi anggota penuh PBB.
Sekali lagi, Amerika tanpa malu-malu kembali mendemonstrasikan “hypocrisy” di mata dunia.
What a shame!
NYC Subway, April 2024