internasional

Kisah Tika Tazkya: Ramadan Berturut di 3 Benua Melalui Studi dan Konferensi

Rabu, 10 April 2024 | 16:31 WIB
Tika Tazkya (Foto: dok. pribadi)

Journalnusantara.com - Menjalani bulan suci di luar negeri tentulah punya nuansa dan suasana yang sangat berbeda dari Indonesia. Terlebih untuk Tika Tazkya, mahasiswa cantik yang berturut menjalani 3x ramadan di 3 benua berbeda.

Pada tahun 2022, setelah dinyatakan lulus dari Universitas Padjadjaran, Tika mengikuti program semester pendek di Polandia (Eropa) dan menjalani Ramadan di sana.

Ramadan berikutnya, Tika mengikuti program Asia World Muslim Conference di Malaysia dan terpilih menjadi Muslim Inspiring Ambassador.

"Ramadan tahun ini, adalah salah satu bulan suci yang penuh hikmah dari Selatan Dunia yang memiliki indeks multikulturalisme tinggi, yakni Australia," kata Tika pada media online nasional Journalnusantara.com jaringan promediateknologi.id, pada hari Rabu (10/04/2024).

Tika melanjutkan studi pascasarjana-nya di bidang Hubungan Internasional. Tentu banyak sekali hikmah yang didapatkan. "Di antaranya pengalaman menjadi minoritas, puasa 17 jam di musim panas, kemeriahan Ramadan, serta pengalaman itikaf saat pergantian zona waktu," ujar Dia.

Pengalaman Menjadi Muslim Minoritas di Eropa

Polandia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Katolik, yaitu lebih dari 91%. Sedangkan komunitas Muslim sangatlah sedikit, bahkan kurang dari 0.1%.

Berkesempatan menjalani Ibadah puasa di negara yang belum banyak mengetahui tentang puasa Ramadan adalah suatu hal yang menantang. Di tengah-tengah musim panas Eropa, kala matahari terbit pukul 4 pagi dan terbenam pukul 10 malam, ini menjadi satu waktu puasa terpanjang di dunia.

Meski demikian, sebagian kecil siswa internasional yang berasal dari Asia dan Timur Tengah tetap menjalani puasanya, termasuk Tika. Respons penduduk asli Polandia juga beragam. Mayoritas siswa di kampus sangat menghargai dan mengagumi kekuatan menahan diri untuk tidak makan di waktu yang lama.

Ada juga respons pelajar kecil Sekolah Dasar yang Tika ajar di Polandia yang gemar berkata “not even water, Tika?”. Mereka bertanya apakah bisa berpuasa selama itu bahkan tidak meminum air sedikit pun. Di momen-momen seperti ini, diri kita merepresentasikan identitas kita sebagai seorang Muslim.

Pelajaran berharga dari menjalani bulan suci di Eropa ini adalah, kita semakin melihat bagaimana para Muslim dari berbagai penjuru dunia tetap berpegang teguh dan justru lebih kuat terikat, hangat, ketika menjadi minoritas.

Belum lagi terpantik oleh para Mu’alaf asli Eropa yang dengan teguh mempelajari Islam meski sebelumnya hal itu asing bagi mereka. Sebaliknya, seringkali suatu negara dengan populasi yang didominasi Muslim justru kebanyakan masyarakatnya “merayakan” Ramadan karena antusiasme massa: hingar bingar, promo special Ramadhan, tetapi kurang begitu menjadi momen spiritual.

Ramadhan di Asia Tenggara: Kemeriahan dan Ketenangan

Malaysia, adalah negara tetangga yang banyak memiliki similaritas (kultur yang sama) dengan Indonesia. Seperti kebanyakan negara bermayoritas Islam, toko dan penjual makanan di Malaysia mayoritas tutup di siang hari.

Halaman:

Tags

Terkini

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB

Tangan Tetap di Pelatuk, Memaksa Zionis Tunduk

Jumat, 10 Oktober 2025 | 07:30 WIB

Delegasi Pesantren Al Masykuriyyah di Uzbekistan

Minggu, 28 September 2025 | 17:48 WIB