Journalnusantara.com, Cianjur - Terowongan Lampegan, yang berlokasi dekat dengan Stasiun Lampegan di Desa Cibokor, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, merupakan salah satu situs bersejarah paling legendaris dalam dunia perkeretaapian Indonesia.
Terowongan ini mencatatkan diri sebagai terowongan kereta api tertua di Jawa Barat, yang pembangunannya dimulai oleh Staatsspoorwegen (Perusahaan Kereta Api Negara Hindia Belanda) pada tahun 1879 dan diresmikan pada 1882.
Tujuannya adalah untuk menunjang jalur kereta api rute Sukabumi-Cianjur, yang sangat penting bagi pengangkutan hasil bumi seperti kopi dan rempah-rempah pada era kolonial.
Awalnya terowongan ini memiliki panjang sekitar 686 meter, menembus Gunung Kencana, namun longsor dan kerusakan parah akibat bencana alam membuat panjangnya kini terpangkas menjadi 415 meter setelah direkonstruksi serius pada 2009-2010.
Nama "Lampegan" sendiri berasal dari cerita unik saat proses pembangunan. Konon, para mandor Belanda sering berteriak "Lamp pegang! Lamp pegang!" dalam logat Belanda-Indonesia untuk mengingatkan pekerja pribumi agar berhati-hati dan membawa lampu di dalam terowongan yang gelap dan mengandung gas berbahaya.
Kalimat peringatan ini kemudian secara turun-temurun diserap oleh masyarakat lokal menjadi "Lampegan", yang akhirnya dijadikan nama stasiun dan terowongannya. Terowongan ini kini masih aktif melayani perjalanan kereta api, salah satunya adalah kereta api Siliwangi rute Sukabumi-Cianjur, menjadikannya sebuah warisan sejarah yang tetap berfungsi.
Selain kisah sejarah yang menarik, Terowongan Lampegan juga diselimuti oleh cerita misteri yang sangat melegenda, yang diyakini berakar dari masa pembangunannya yang sulit dan penuh kecelakaan.
Masyarakat setempat menuturkan adanya mitos tumbal, yang sosoknya diyakini adalah seorang penari ronggeng cantik bernama Nyi Sadea. Seorang tokoh masyarakat setempat mengisahkan, "Diceritakan, usai meronggeng untuk menghibur para pejabat dan pekerja, Nyi Sadea tiba-tiba hilang ditelan kegelapan terowongan."
Cerita yang berkembang menyebut bahwa Nyi Sadea dijadikan tumbal untuk kelancaran pembangunan dan jasadnya ditanam di salah satu dinding beton. Bahkan, beberapa penumpang kereta api dan warga lokal mengaku sesekali melihat penampakan sosok perempuan berkebaya merah sambil membawa lentera di sekitar terowongan.
Mitos ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Lampegan, membuatnya tak hanya sekadar jalur transportasi, melainkan juga destinasi wisata sejarah dan mistis di Cianjur.