Journalnusantara.com - Pada tanggal 3 Juli 1920, sebuah babak baru dalam sejarah pendidikan di Hindia Belanda dimulai dengan berdirinya Technische Hoogeschool (TH) te Bandung.
Sekolah tinggi teknik pertama ini bukan sekadar inisiatif akademik biasa, melainkan respons strategis terhadap gejolak global. Pecahnya Perang Dunia I menjadi katalisator utama pendiriannya.
Sebelum perang, Hindia Belanda sangat bergantung pada pasokan ahli teknik dari Belanda. Namun, konflik global tersebut secara drastis menghambat aliran tenaga ahli ini, menciptakan kekosongan signifikan dalam pembangunan infrastruktur dan industri kolonial.
Di sisi lain, para pemuda pribumi yang berambisi melanjutkan pendidikan teknik di Delft, Belanda, pun menghadapi kesulitan besar akibat kondisi perang. Kebutuhan akan insinyur lokal yang kompeten menjadi sangat mendesak.
Berangkat dari urgensi tersebut, Bandung dipilih sebagai lokasi strategis untuk TH. Kota ini, dengan sektor industrinya yang sedang berkembang pesat, menawarkan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan pendidikan teknik.
Dengan lahan seluas 30 hektar di kawasan Bandung utara, TH berdiri megah, siap mencetak generasi baru ahli teknik yang cakap.
Pendirian TH te Bandung bukan hanya solusi pragmatis untuk mengatasi krisis tenaga ahli akibat perang, tetapi juga tonggak penting dalam sejarah pendidikan tinggi di Indonesia.
Sekolah ini kelak bertransformasi menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu institusi pendidikan terkemuka di Indonesia, yang terus melahirkan inovator dan pemimpin di bidang sains dan teknologi.
TH menjadi bukti nyata visi jauh ke depan dalam menghadapi tantangan, dan warisannya terus membentuk masa depan bangsa.