Journalnusantara.com - Sekitar tahun 1992, Haji Ruswandi mengalami pengalaman spiritual yang menggetarkan hati saat mertuanya dirawat di RS MMC Kuningan, Jakarta.
Mertuanya, yang tengah menahan sakit luar biasa, terus berteriak kesakitan bahkan hingga dini hari, membuat suasana rumah sakit dipenuhi jeritan yang memilukan.
Dengan penuh kepasrahan dan cinta kepada orang tuanya, Haji Ruswandi duduk di samping tempat tidur sang mertua.
Ia menggenggam jempol kaki mertuanya, lalu melakukan robithoh kepada Pangersa Abah Anom QS. Dalam hati, ia berbisik penuh harap: "Abah... Tolong... Ini orang tua saya..."
Subuh pun berlalu. Pukul tujuh pagi, datanglah secara tiba-tiba Pangersa Ajengan Aang dari Cianjur ke rumah sakit.
Ternyata malam sebelumnya, Ajengan Aang menginap di rumah Haji Widodo, seorang pemangku manaqib di Mampang Prapatan.
Tanpa banyak bicara, Ajengan Aang langsung menyampaikan Talqin Dzikir kepada sang mertua. Keajaiban pun terjadi: sang mertua langsung tenang dan tak lagi mengerang kesakitan.
Dengan haru, Haji Ruswandi mengucapkan terima kasih, namun Ajengan Aang menjawab dengan rendah hati, "Ehh jangan ka Aang... Abah nyalira nyumping..." ("Jangan ke Aang... Abah sendiri yang datang...")
Kisah ini menjadi bukti kuat bahwa hubungan ruhani antara Pangersa Abah Anom QS dan murid-murid beliau sangat dalam.
Ketika seorang murid melakukan robithoh dengan sungguh-sungguh, maka insya Allah, kehadiran ruhani Abah senantiasa membersamai. Maa syaa Allaah.