JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR - Penyelenggaraan Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) XII tingkat Kabupaten Cianjur diproyeksikan menjadi batu loncatan penting untuk mengukuhkan identitas daerah sebagai Tatar Santri.
Selain menjadi kompetisi lokal, ajang ini didesain guna mempererat tali persaudaraan sekaligus meneguhkan komitmen pendidikan keagamaan.
Ketua DPC Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Cianjur, Muhammad Toha, mengungkapkan adanya peluang besar bagi daerahnya untuk ditunjuk sebagai penyelenggara PORSADIN pada level Provinsi Jawa Barat mendatang.
Keputusan resmi mengenai penunjukan ini masih menunggu pengumuman dari pengurus wilayah.
"Insyaallah, untuk PORSADIN tingkat provinsi nanti Ketua DPW akan menyampaikan secara resmi. Mudah-mudahan Kabupaten Cianjur dipercaya menjadi tuan rumah," tutur Toha di sela pembukaan acara.
Pada kesempatan tersebut, diperkenalkan pula piala bergilir unik berbentuk ikon lokal Ayam Pelung yang sarat makna spiritualitas subuh bagi masyarakat setempat.
Toha menegaskan bahwa keterbatasan materi tidak menyurutkan motivasi para santri dari puluhan kecamatan demi menghadiri wadah silaturahmi ini.
"Kita tidak diukur dari materi. Mungkin ada yang datang dengan biaya pas-pasan, bahkan ada yang harus berusaha lebih keras agar bisa hadir. Tetapi nilai silaturahmi dan kebersamaan jauh lebih penting," ucapnya menerangkan.
Pascaagenda ini, organisasi berkomitmen melanjutkan program pembinaan secara simultan sepanjang tahun demi menyongsong kompetisi di tingkat nasional.
Manifestasi kebudayaan lokal seperti falsafah Ngaos, Mamaos, Maenpo tetap dipegang erat sebagai instrumen pencetakan generasi muda islami yang tangguh.
Sebagai langkah nyata perlindungan mutu pendidikan dasar, pihak teknis asosiasi dijadwalkan mulai menyisir sejumlah sekolah menengah pertama pada bulan depan.
Pendataan ini bertujuan melacak sekaligus memastikan seluruh peserta didik baru telah mendapatkan pendalaman materi keagamaan secara optimal di lingkungan mereka.
"Kami ingin memastikan anak-anak memiliki bekal pendidikan agama yang kuat. Mengaji bukan hanya menjadi kegiatan tambahan, tetapi menjadi fondasi pembentukan akhlak, karakter, dan keyakinan mereka dalam menghadapi kehidupan," ia memungkasi.