pariwisata

Merintis Kebaya Jadi Milik Dunia

Rabu, 1 Februari 2023 | 21:01 WIB
10 Gaya OOTD Laksmi De Neefe Suardana Saat Karantina di Miss Universe 2023, Fashionable dan Cantik Banget Salah Satunya Dalam Balutan Kebaya (www.instagram.com/@laksmideneefe)

Adapun joint nominations dapat diajukan oleh dua atau lebih negara secara bersama-sama kepada UNESCO setiap tahun sekali tanpa mengurangi kuota yang dimiliki negara tersebut.

Indonesia tidak hanya kaya akan alam yang indah tapi juga budaya serta tradisi. Sejak 2013, Kemendikbudristek mencatat Indonesia memiliki 1.528 warisan budaya tak benda yang bisa diajukan ke UNESCO. Dan jika semua diusulkan ke UNESCO dibutuhkan 3.000 tahun karena hanya bisa diakomodasi setiap dua tahun.

Sejauh ini, UNESCO terus mendorong agar setiap negara mengembangkan status dari warisan budaya tak bendanya, sehingga mereka berkembang dari status negara yang tadinya tidak memiliki kebudayaan yang bisa diangkat, menjadi negara yang berkembang dan cenderung menjadi negara maju.

Pemakaian kain kebaya memang kembali marak dalam beberapa tahun terakhir. Dulu, pakaian ini identik digunakan kaum perempuan pada acara-acara formal seperti pernikahan, adat, dan pemerintahan.

Kini, busana kebaya bagi sebagian perempuan di perkotaan mulai menggeser pakaian ala barat dan muslim. Bahkan, anak-anak muda sudah biasa mengenakan kebaya di tempat-tempat umum, entah di mal, kafe, transportasi umum, kampus, dan perkantoran.

Tren kebaya semakin menjamur ketika sejumlah instansi pemerintah pusat dan daerah mewajibkan pegawainya menggunakan pakaian adat Nusantara pada hari tertentu. Kebaya sedang menemukan momentumnya.

Baca Juga: Pramugari Wenny Dwiwanri Duduk Santai Sambil Menenun, Warganet: Senyumnya Mengalihkan Duniaku

Seberapa pentingnya pengajuan kebaya sebagai warisan budaya tak benda? Beberapa kalangan pegiat gerakan berkebaya memiliki pandangan tersediri. Indiah Marsaban, pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dan pegiat budaya, mengungkapkan bahwa asal-usul busana kebaya Indonesia pun masih diperdebatkan. Mengingat ada pengaruh dari Portugis, Arab, Tiongkok, dan budaya lainnya.

Di samping itu, posisi Indonesia yang strategis di jalur perdagangan terutama di Asia Tenggara hingga Timur Tengah, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pintu masuk berbagai kebudayaan yang dibawa oleh para pedagang asing. Termasuk, budaya berpakaian yang kemudian melebur dan beradaptasi dengan budaya lokal.

"Bahkan terdapat kemungkinan bahwa berbusana kebaya bisa dikategorikan sebagai 'shared culture' bersama-sama negara-negara serumpun di Asia Tenggara, meskipun memiliki detail yang berbeda," ujar Indiah.

Oleh karena itu, menurut Indiah, narasi yang digunakan untuk mempromosikan tradisi kebaya Indonesia sebaiknya tidak “mendiskreditkan” negara lain atau mengklaim bahwa negara lain akan “mengambil” suatu elemen budaya dari negara yang merasa “memiliki” budaya tersebut.

“Terdaftar di UNESCO bukan berarti pengakuan hak eksklusif atau hak milik dari suatu elemen budaya dan bukan tentang orisinalitas atau otentiknya suatu elemen budaya. Melainkan mengandung makna, kontribusi elemen budaya tersebut pada nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan nilai-nilai universal untuk kemanusiaan,” jelas kontributor buku "Kebaya Melintasi Masa" tersebut.

Baca Juga: Whasfi Velasufah: IPPNU Adalah Rumah Aman bagi Pelajar

Elemen keberlanjutan memang masih terlihat pada ciri-ciri kebaya modern di Indonesia. Ciri-ciri tersebut mudah dikenali, misalnya blus ketat yang menonjolkan torso wanita; leher lipat tanpa kerah dan bukaan depan; lengan panjang; dan jenis kain semi transparan. Gaya kebaya masa kini pun sudah bisa dikombinasikan dengan busana muslim dan celana jeans.

Gaya kebaya tersebut masih identik pada mode kebaya abad lalu yang dikenakan perempuan Jawa, Bali, Sumatra, maupun Sulawesi. Busana kebaya yang dulu didominasi perempuan bangsawan dan peranakan kini sudah dipakai oleh semua kalangan.

Halaman:

Tags

Terkini

Kerjasama Media Online dengan Hotel

Senin, 6 April 2026 | 06:38 WIB