Oleh : Nanang Gojali
Memasuki hari-hari besar Islam, umat Islam yang ada di bumi Nusantara memiliki agenda dan kesibukan khusus, yaitu menyelenggarakan peringatan hari besar Islam (PHBI). Bulan Rabiul Awwal adalah bulan peringatan maulid Nabi Saw. Bulan Rajab, seperti sekarang, adalah bulan peringatan Isra Mi'raj. Begitupun bulan Muharram, meskipun tidak semeriah kedua bulan yang disebut terakhir, adalah bulan peringatan peristiwa hijrahnya Nabi Saw dari Mekah ke Yasrib (Madinah sekarang). Sebagian besar umat Islam di Indonesia sudah lama mentradisikan PHBI dalam ketiga bulan tersebut.
Sebagaimana kegiatan yang berbasis tradisi, peringatan-peringatan hari atau bulan besar Islam tersebut, _an sich_ hanya sekadar peringatan tanpa program tindak lanjut yang lebih kongkret sebagai wujud manifestasi dari sejarah yang diperingati. Karena itu adalah wajar jika penyelenggaraan berbagai peringatan hari besar Islam itu tidak berdampak sama sekali terhadap keberagamaan umat. Sebagai salah satu contoh kongkret, masih banyak peringatan Isra Mi'raj pada bulan Rajab yang tidak berpengaruh pada jumlah jamaah shalat, padahal pesan penting dari peringatan Isra Mi'raj itu adalah perintah mendirikan shalat. Bahkan ada hal yang ironis, setelah malamnya mengikuti peringatan, shalat subuh malah kesiangan.
Baca Juga: 100 Tahun Nahdlatul Ulama
Demikian halnya dengan peringatan maulid Nabi Saw. Meskipun para muballigh menjelaskan sejarah akhlak Rasulullah, tapi dari maulid ke maulid akhlak umat Islam masih bisa dikatakan belum mengalami perbaikan. Bahkan ada kecenderungan menujukkan indikasi sebaliknya. Korupsi di kalangan pejabat terus mengakami peningkatan. Kejahatan sosial dan moral semakin menjadi-jadi sampai batas yang sudah sangat mengkhawatirkan. Hal ini bisa kita akses setiap saat dari pemberitaaan, di media mainstream, di media online maupun di media-media surat kabar.
Penulis tidak bermaksud mengatakan bahwa PHBI itu tidak penting, atau tidak ada manfaatnya. Apapun hasilnya, bagaimanapun pengaruhnya, PHBI itu tetap penting meskipun tidak merupakan keharusan. Terutama untuk mengenang dan melacak sejarah Islam termasuk sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw. Tanpa memahami sejarah, umat Islam tidak akan bisa memperbaiki keadaan umat Islam yang ada pada masa kini sekaligus tidak akan bisa merancang kemajuan dan kejayaan Islam di masa yang akan datang.
Baca Juga: Sejak Dulu Rempah-Rempah Indonesia Diburu Dunia
Tidak bermaksud menafikan para penceramah maulid Nabi atau Isra Mi'raj. Dakwah melalui ceramah atau tabligh itu masih tetap penting. Kita tidak bisa membayangkan keadaan manusia khususnya umat Islam kalau sudah tidak ada lagi para muballigh yang setiap malam berceramah dari panggung ke panggung PHBI. Masih banyak saja para muballigh, umat Islam sudah seperti ini, apalagi kalau sudah tidak ada.
Namun kita juga perlu sepakat bahwa metode ceramah dalam berdakwsh itu bukan betarti tanpa kelemahan. Banyak sekali kelemahan metode ceramah itu sehingga materi peringatan tidak tersampaikan secara efektif. Antara lain: (a) Jamaah pendengar heterogen (b) Muballigh tidak memahami kebutuhan jama'ah pendengar (c) pesan suara melalui ceramah sulit ditangkap dengan baik (d) ceramah umum cenderung bebas tanpa ketentuan kurikulum. Kelemahan-kelemahan inilah yang seringkali menyebabkan ceramah dalam berbagai peringatan hari besar Islam menjadi tidak efektif.
Baca Juga: Miris, Anggaran Kemiskinan RP500 Triliun Habis Buat Studi Banding dan Rapat di Hotel
Karena itu, maka akan lebih bisa menutupi kekurangan metode ceramah apabila setiap penyelenggaraan kegiatan PHBI itu dilakukan semacam program lanjutan dalam bentuk pendalaman dan pengayaan materi yang disampaikan oleh penceramah. Pada dasarnya, penceramah dalam acara PHBI itu hanya sebagai upaya stimulasi kepada para jama'ah pendengar untuk memperdalam lagi materi yang disampaikan.
Wallahu a'lam