Catatan NGABAR tanggal 14-01-23 di Masjid Agung Cianjur
Oleh : NangGo
Kajian NGABAR di masjid agung kemarin, terbilang cukup menarik perhatian publik di luar jama'ah tetap NGABAR. Tidak kurang dari 200-an orang yang memadati ruang utama masjid agung. Meskipun jumlah itu belum seberapa jika dibandingkan dengan event-event pengajian ibu-ibu yang biasa meminjam masjid agung sebagai tempat kegiatan, seperti BKMM dan Muslimat NU yang menghadirkan jama'ah mereka dari setiap kecamatan. Namun untuk ukuran sebuah forum kajian yang baru seumur jangung, fenomena kemarin itu merupakan kejadian yang luar biasa.
Kajian NGABAR yang menampilkan dua narasumber kompetentif, DR. dr. Hj. Trini Handayani, SH, MH dan Ustadz Nanggo sendiri sebagai pembina tetap NGABAR, membahas topik yang sangat menarik sekakigus mengerikan. Yaitu LGBT Perspektif Islam dan Kesehatan. Menariknya karena masih banyak masyarakat yang belum memahami persoalan LGBT termasuk perkembangannya di Cianjur.
Baca Juga: Nah loh, Ridwan Kamil Soroti Emak-Emak Joget di Masjid Al Jabbar
Mengerikannya karena ada fakta sejarah pernah dihancurkannya suatu kaum sodom, umat Nabi Luth as. yang sudah sangat bejat moralnya dengan azab yang sangat dahsyat dan mengerikan. LGBT yang terjadi di zaman modern ini adalah komunitas generatif dari kaum sodom pada kira-kira 4000 tahun yang lalu. Kaum sodom yang terjadi pada masa prasejarah bermetamorfosis dalam wujud yang paling canggih tapi juga paling mengerikan.
Ustadz NangGo yang menjadi pemateri pertama memaparkan tentang sejarah kaum sodom, bagaimana mereka diazab dengan likwipaksi, dijungkir-balikannya bumi melenyapkan mereka terkubur hidup-hidup berikut seluruh kekayaan mereka. Sementara lemparan batu terus menghujani seluruh permukaan tanah. Gempa bumi yang terjadi di Cianjur yang episentrumnya di wilayah Cugenang, yang selain bukan murni merupakan azab, masih tidak seberapa dahsyat jika diperbandingkan dengan apa yang terjadi 4000 tahun yang lalu di perbatasan Israel-Yordania (sekarang) itu.
Baca Juga: Tetap Waspada, Kabupaten Cianjur Dikelilingi 7 Sesar Aktif
NangGo, dengan mengutip beberapa ayat dan hadis, juga kesepakatan ulama fiqh, menyebutkan bahwa hukum LGBT itu haram dan merupakan dosa besar yang untuk mendapatkan ampunan Allah harus melalui proses pertobatan yang sungguh-sungguh. Jika kaum LGBT hidup di negara yang menerapkan hukum pidana Islam, maka hukuman bagi mereka adalah dibunuh atau diterapkan hukuman berzina, yaitu dicambuk dan dirajam. Kedua bentuk alternatif hukuman tersebut didasarkan kepada alasan bahwa LGBT merupakan perbuatan keji (_fahisyah_) dan merusak kepribadian dan menghancurkan masa depan generasi muda.
Sesi pemaparan materi berikutnya LGBT dilihat dari kesehatan oleh Dr. dr. Hj. Trini Handayani, SH, MH. Untuk masyarakat Cianjur, nama ini sudah tidak asing, terutama bagi kalangan para aktivis kesehatan, para dokter, dan paramedis. Selain beliau pernah menjadi Ketua IDI Cianjur selama dua periode, pernah beberapa kali menjadi kepala Puskemas di beberapa kecamatan, beliau juga adalah dokter praktek yang setiap hari melayani pasien.
Baca Juga: Persija Jakarta vs Bali United di Liga 1: Statistik dan Prediksi Susunan Pemain
Apa yang Dr. Trini sampaikan, semua sangat menarik tapi juga sesekali mengerikan bahkan ada penjelasan yang membuat audiens mengucap _astagfirullah_ karena sama tidak menyangka kakau kasus LGBT di kabupaten Cianjur yang dikenal agamis itu, sudah sedemikian parah dan sangat mengkhawatirkan masa depan generasi muda. Beliau menayangkan sebuah grafik tentang situasi HIV-AIDs di Kabupaten Cianjur dari tahun 2012 hingga tahun 2022. Secara kumulatif terus menunjukkan angka meningkat. Hingga tahun kemarin, orang yang sudah dinyatakan positif HIV-AIDs mencapai angka kumulatif 1695 jiwa. _Astagfirullah wa na'uzubillah_. Itu data orang yang telah diperiksa dokter, yang jumlahnya akan meningkat jika semua palaku LGBT sudah diperiksa dan sudah dilakukan tes HIV-AIDs.
Hal yang menarik lainnya dari NGABAR kemarin, adalah ditampilkannya dua orang _alumni_ LGBT yang kembali ke jalan yang benar. Keduanya ditampilkan untuk memberikan testimoni bagaimana mereka berdua sampai tersesat di jalan sesat, dan bagaimana pula keduanya bisa kubangan maksiat itu seraya kembali ke jalan yang benar. Intinya, keduanya bisa terperosok menjadi LGBT karena ketidaktahuan dan kepolosan.
Baca Juga: Lewat Lagu, Shakira Sindir Gerard Pique dan Pacar Barunya
Dan bisa keluar lagi kembali ke jalan yang benar karena petunjuk Tuhan yang mendorong keduanya berusaha keras. Keduanya berpesan kepada para pelajar yang hadir untuk tidak polos dengan soal LGBT agar tidak mudah terjebak. Dan perkuat keimanan dan akhlak.