opini

Penyerangan Polisi di Malam Tahun Baru di Kota New York

Jumat, 13 Januari 2023 | 08:15 WIB
Imam Shamsi Ali (Seth Wenig)

Saya kemudian memulai dengan mengatakan bahwa kunjungan saya kali ini untuk mengetahui lebih dekat tentang dirinya dan latar belakangnya. Dia hanya mengangguk. Lagi-lagi dengan senyuman penuh keramahan.

“When did you convert to Islam?”, tanyaku.
“A few months ago. Last august”, jawabnya.
“Oh do you mean August of 2022?”, tanya saya.
“Yes, that’s right”, jawabnya.

Mendengar itu saya terkejut. Kok seseorang masuk Islam di bulan Agustus, lalu di bulan Desember di tahun yang sama telah menjadi “extremist” dalam agama?

Saya tentu tidak menyampaikan atau bertanya tentang hal itu. Tapi saya memang terkejut dan nyaris tidak paham kenapa anak yang nampak ramah ini dalam waktu yang sangat singkat berubah menjadi “extreme?”.

Saya kemudian menggali lebih jauh. “Did you learn the religion? Do you have a teacher?”.
Yang mengejutkan lagi dia menjawab: “yes. I read the Quran by my self”.
“Don’t you have any teacher or Imam who taught you Islam?”, tanya saya lagi. “No” jawabnya singkat.
“But did you convert? I mean di you take shahadah?”, saya memastikan.
“Yes I went to the mosque in the area”. Katanya singkat.

Saya tidak ingin lagi menggali keislaman dia. Khawatir justeru merasa tidak dipercaya. Saya kemudian menanyakan peristiwa di tahun baru itu. “What’s going on. Why did you attack the police?”.

Dia sepertinya menarik nafas dan menjawab: “I don’t know. I was just upset”.

“Upset about what?”, tanya saya.
“Dia kemudian mulai bicara banyak tentang berbagai ketidak adilan di berbagai belahan dunia. Dari tutur katanya saya menangkap jika anak ini pintar, menguasai banyak permasalahan dunia.

Baca Juga: Pengurus OSIS IP3A-IP4A Pondok Pesantren Al-Ittihad Cianjur Masa Khidmat 2023-2024 Resmi Dilantik

Dari pembicaraan dia juga saya menangkap bahwa dia memang hanya mengenal Islam dari internet. Itupun dari beberapa peristiwa buruk yang menimpa Umat Islam di berbagai tempat. Salah satunya berita-berita yang berkaitan dengan bangsa Afghanistan yang menurutnya telah puluhan tahun terzholimi.

Setelah saya mendengarkan secara seksama, bersikap seolah tidak tahu dan baru mendengar hal itu darinya, tibalah giliran saya berbicara.

“Saya bisa paham apa yang anda sampaikan. Anda punya hati dan niat yang mulia. Ingin membantu mereka yang terzholimi”, jelas saya.

“Tapi dalam Islam, niat dan tujuan yang baik itu tidak membenarkan segala cara” (good end doesn’t justify just any means).

Saya kemudian ingin mencontohkan tentang berhaji. Tapi sebelum itu saya ingin pastikan apakah dia paham apa itu haji. “You know Hajj, right?”, tanyaku.

“Yes” jawabnya singkat.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB