opini

Kompleksitas Dunia Modern dan Solusi Islam (terakhir)

Minggu, 8 Januari 2023 | 07:20 WIB
Imam Shamsi Ali (Beritabulukumba.com)

Pembangunan kehidupan komunal (jama’i) dalam Islam itu berawal dengan hijrahnya Rasulullah SAW ke kota Yatsrib pada sekitar tahun ke 13 kenabian. Perpindahan atau hijrah Rasulullah dari Mekah ke Yatsrib itu sekaligus merupakan langkah pertama (first step) dalam pembangunan kehidupan Umat secara komunal.

Itulah salah satu alasan kenapa penanggalan atau kalender Islam diawali dengan Hijrahnya Rasulullah SAW. Karena hijrah merupakan simbolisasi kebangkitan Umat secara komunal (jama’i) dan publik.

Dalam hal ini ada satu hal penting yang ingin saya garis bawahi sebagai landasan untuk memahami bagaimana Islam hadir dengan konsep kehidupan jama’i (publik) itu. Yaitu konsep “Madinah” yang sekaligus menjadi nama baru bagi kota Yatsrib tadi.

Ketika kita mendengarkan kata “Madinah” (المدينة) biasanya yang hadir di imajinasi kita adalah gedung-gedung dan segala kemajuan dunia seperti yang nampak di kota-kota besar dunia. Ambillah sebagai misal kota Manhattan (NYC), Paris, Sorbonne, Tokyo, dan lain-lain.

Baca Juga: Loker BUMN, Lulusan SMA/SMK, D3, dan S1

Madinah memang secara literal berarti kota. Tapi ternyata kata Madinah memiliki makna yang lebih jauh dari sekedar kota. Kota dengan segala kemajuan dan hiruk-pikuk dunianya hanyalah satu aspek dari kota.

Kata Madinah (المدينة) berasal dari kata “دان يدين دين” atau “Diin”. Kata diin ini menjadi pokok utama dari Madinah atau kota sebagai pusat kehidupan sebuah bangsa atau masyarakat.

Kata “diin” ini selain melahirkan kata madinah yang dipaham sebagai “perkotaan” juga dapat dimaknai sebagai “tamaddun” atau pusat peradaban. Sehingga masyarakat yang hidup di kota itu pastinya adalah masyarakat yang “mutamaddin” (civilized/berperadaban). Masyarakat dengan karakter peradaban ini dikenal secara luas dengan “masyarakat madani”.

Namun yang lebih mendasar dari semua itu, kata kata “diin” ternyata bermakna “ketaatan” kepada Pencipta langit dan bumi. Al-Quran menggariskan: “ومن اسلم وجهه لله وهو محسن فله اجره عند ربه” (Al-Baqarah: 112).

Baca Juga: Tanpa Messi dan Mbappe, PSG Hancurkan Chateauroux di Piala Perancis 2022-2023

Sehingga dengan sendirinya kata المدينة (Madinah) tidak bisa dilepaskan dari “ketaatan dan religiositas” masyarakatnya. Sebuah masyarakat atau bangsa yang beradab tak akan bisa dilepaskan dari nilai-nilai religiositas ini.

Inilah salah satu makna dari keputusan Rasulullah SAW ketika pertama kali tiba di Yatsrib adalah membangun masjid (Kuba). Masjid berarti tempat sujud. Dan sujud sejatinya dimaknai sebagai ketaatan kepada Allah SWT. Sehingga masjid yang dibangun oleh Rasulullah itu mengingatkan Umat jika kota/negara yang akan terbangun itu mutlak berkarakter ketaatan kepada Allah SWT.

Realita ini sesungguhnya juga disadari oleh para pendiri bangsa (founding fathers) baik Indonesia maupun Amerika. Indonesia terpatri pada Pancasila dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sementara di Amerika ungkapan: “Under God” atau “In God we trust” adalah ungkapan yang sangat populer.

Baca Juga: M3GAN, Film Horor Boneka Robot yang Membawa Teror bagi Pemiliknya

Kesimpulan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa Islam itu hadir membawa konsep kehidupan publik (jama’i). Dan hal yang paling mendasar dalam tatanan kehidupan jama’i dalam Islam adalah tegaknya nilai-nilai Ketuhanan (kesucian/kefitrahan) dalam kehidupan manusia.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB