Oleh: Imam Shamsi Ali
Permasalahan-permasalahan dunia modern tidak terbatas pada tataran individu. Bahkan tidak juga sekedar pada tataran keluarga seperti yang disampaikan pada bagian terdahulu. Kompleksitas dunia modern ternyata juga memporak porandakan sendi-sendi kehidupan sosial (publik).
Berbagai konsep kehidupan publik yang kemudian terwujudkan dalam bentuk kebijakan publik (pemerintahan) menggambarkan kompleksitas permasalahan yang ada. Berbagai pandangan dan kebijakan publik itu, kalau saja dipahami dengan penglihatan nurani (murni) pastinya dirasakan sebagai ancaman (threat) kepada kehidupan manusia itu sendiri.
Tentu pandangan dan kebijakan itu tidak terlepas dari konsep kehidupan yang “materialis” tadi. Dalam artian bahwa konsep atau pandangan hidup publik itu bertujuan untuk “serving the interest of materialism” (pemenuhan kepada paham material).
Baca Juga: Galang Rambu Anarki, Putra Iwan Fals Mendadak Trending di Google
Akibatnya seringkali kita lihat penilaian manusia terbolak balik. Yang benar menjadi salah dan yang salah dan membahayakan kehidupan terbalik seolah menjadi benar dan kebaikan. Bahkan tidak jarang hal yang salah dan membahayakan kehidupan itu dipropagandakan seolah sejalan dengan nilai-nilai universal (kebebasan, HAM, dst.).
Keadaan ini menjadikan manusia semakin buta nurani. Karena selain nuraninya tertutupi oleh paham-paham materialisme tadi, juga terbangun lingkungan publik yang semakin tidak mendukung. Lingkungan yang menina bobokkan seolah semua baik-baik saja. Padahal kenyataannya kehidupan manusia itu semakin membusuk dari dalam.
Melihat dari dekat kehidupan masyarakat modern saat ini, khususnya (so called) dunia Barat, mengingatkan kita kehidupan Romawi dan Persia sebagai dua kekuatan dunia kala itu. Kisah dua bangsa besar itu dikisahkan di surah ke 30 Al-Quran (Ar-Rum).
Baca Juga: Hakim Ziyech, Pemain Chelsea yang Moncer Bersama Timnas Maroko di Piala Dunia 2022
Ringkasnya “kerusakan yang terjadi di darat dan dilaut karena tangan-tangan manusia” (Ar-Rum: 41) adalah akibat dari konsep kehidupan “mereka tahu aspek lahir dari kehidupan. Tapi mereka lalai akan hari akhirat” (Ar-Rum: 7).
Surah Ar-Rum menggambarkan berbagai krisis dunia di tengah kemajuan (soliditas) kehidupan dunia ketika itu. Roma dan Persia pada masanya adalah dua bangsa super power yang saling berkompetisi, bahkan kerap ingin saling mengeliminir satu sama lain.
Jika melihat kepada kehidupan dunia modern kita saat ini, maka yang terjadi adalah gambaran kehidupan ketika itu. Kemajuan dunia (ekonomi, sains dan teknologi) bahkan kemajuan keilmuan tidak menjadikan manusia lebih berilmu dan berakal. Justeru seringkali prilaku mereka menggambarkan titik nadir kejahilan yang memalukan.
Di sìnilah kemudian Islam hadir sebagai rahmah (solusi) bagi kehidupan jama’i (publik) manusia. Tulisan ini pastinya tidak merincikan bagaimana solusi yang dihadirkan oleh Islam untuk kehidupan jama’i manusia. Justeru yang ingin saya ingatkan kepada kita adalah satu realita sejarah dalam perjalanan agama dan Umat ini. Fakta itu adalah pembentukan kehidupan jama’i (publik) pertama dalam sejarah Islam.
Baca Juga: Peduli Kemanusiaan, MGMP Sejarah Kabupaten Cianjur Salurkan Bantuan Untuk Korban Gempa