opini

ODGJ Terdampak Gempa: Fenomena Apa?

Rabu, 28 Desember 2022 | 08:17 WIB
Nanang Gojali


Oleh : Nanang Gojali

Pada beberapa hari yang lalu, salah satu media online journalnusantara.com mengangkat berita ada sebanyak 61 orang orang dalam gangguan jiwa (ODGJ) sebagai dampak dari musibah gempa bumi Cianjur. Sebagiannya sudah dirujuk ke rumah sakit jiwa. Sebagian lainnya masih tercecer di tenda-tenda penampungan sementara.

Sebelum mengangkat masalah ini ke ruang publik, penulis pernah berdiskusi kecil dengan seorang teman yang tidak mau disebut namanya, menyoal fenomena ODGJ pada peristiwa gempa. Si teman ini menyebut banyaknya ODGJ dampak gempa bumi yang meluluhlantakan sejumlah desa di Kecamatan Cugenang dan Cianjur, itu sebagai peristiwa yang manusiawi. Benarkah menjadi gila itu manusiawi? Dan apa yang disebut dengan manusiawi?

Baca Juga: Menkopolhukam Gelar Audiensi Bersama PBNU dan Ulama Jawa Timur Bahas Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

Teman penulis ini dengan agak panjang menjelaskan kalau dampak dari kerusakan rumah hingga rata dengan tanah, ditambah lagi dengan kehilangan harta benda bahkan keluarga yang menjadi korban meninggal, wajar saja jika yang mengalaminya menjadi stress dan bahkan depresi berat (gila).

Waktu itu, sejenak penulis merenung benarkah menjadi ODGJ itu manusiawi? Jika memang benar, berarti orang gila masih mempunyai nilai kemanusiaan? Padahal orang gila itu orang yang kehilangan akal dan kesadaran. Dia tidak sadar eksistensi dirinya sebagai manusia. Akal dan kesadaran itulah esensi yang menentukan kemanusiaan seorang manusia.

Baca Juga: Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung Raih Penghargaan dalam Pelaksanaan Audit Mutu Internal Tahun 2022

Dari perspektif ini, penulis menolak asumsi sang teman tadi, bahwa menjadi ODGJ adalah sesuatu yang manusiawi.

Lalu, wajarkah jika orang yang sangat tertekan kejiwaannya semisal korban terdampak gempa menjadi stress dan depresi (gila)? Stres adalah bagian alami dan penting dari kehidupan, tetapi apabila berat dan berlangsung lama dapat merusak kesehatan kita.

Meskipun stres dapat membantu menjadi lebih waspada dan antisipasi ketika dibutuhkan, namun dapat juga menyebabkan gangguan emosional dan fisik. Depresi adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang disukai.

Seseorang dinyatakan mengalami depresi jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga. Depresi yang dibiarkan terus berlanjut dan tidak mendapatkan penanganan dapat menyebabkan terjadinya penurunan produktifitas kerja, gangguan hubungan sosial, hingga munculnya keinginan untuk bunuh diri.

Baca Juga: Geser 2 Hartono, Low Tuck Kwong Jadi Orang Terkaya di Indonesia

Bagi orang yang beriman, yang benar-benar meyakini semua peristiwa kehidupan telah ditentukan Allah, gempa bumi sedahsyat apapun dan semeluluhlantakkan bagaimanapun, tidak akan membuatnya menjadi depresi, dan menadi ODGJ itu menjadi sangat tidak wajar dan tidak mencerminkan orang yang beriman.

Allah SWT dalam ayat 22-23 surah Al-Hadid (SQ:57) memberi petunjuk bahwa tidak ada bencana alam termasuk dampak-dampaknya yang menimpa manusia melainkan sudah tertulis dalam suratan taqdir sebagai ujian agar kita tidak berputus asa dari pertolongan dan ampunan Allah. Orang beriman itu pasti kuat menghadapi seberat apapun ujian kehidupan.

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB