Oleh : Satria Hadi Lubis
Bagi Bilal bin Rabbah ra, kemerdekaan itu mahal harganya. Sebagai mantan budak, beliau pernah hampir terbunuh karena dijemur di panas teriknya gurun pasir oleh majikannya yang kejam, Umayyah bin Khalaf, hanya karena ingin bebas menyembah Allah saja.
Baca Juga: Menjaga Kearifan Lokal Bagian dari Cinta Tanah Air
Kesadaran akan mahalnya kemerdekaan itu juga yang ditanamkan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya. Mereka menyebar ke seluruh penjuru dunia sepeninggal wafatnya Nabi saw, bersusah payah untuk membebaskan manusia dari penjajahan manusia lainnya.
Al Qur'an menyebut misi memerdekaan manusia ini dengan misi Tauhid "Laa ilaha illa Llah" (Tiada tuhan kecuali Allah).
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" (Qs. 20 ayat 14).
Sebab hanya dengan menyembah Allah semata manusia benar-benar merdeka dari penjajahan tuhan-tuhan yang lain. Bebas dari penjara pikiran dan hawa nafsu untuk menuju pada keselamatan dan kebahagiaan sejati.
Dalam konteks ini, maka barangsiapa ada yang menghalangi kemerdekaan manusia dan memenjarakan fisiknya serta pikirannya bukan karena kejahatannya dapat disebut sebagai suatu kezaliman yang pelakunya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.
Kemerdekaan itu memang mahal harganya. Semahal ketabahan yang harus dimiliki untuk memperjuangkannya, seperti perjuangan saudara-saudara kita di Palestina yang sedang melawan penjajah Israel.
Semahal rasa syukur kepada Allah SWT bagi kita yang masih bisa berekspresi bebas di negara Indonesia merdeka, sehingga kita perlu mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat bagi bangsa. Serta tidak menjadi agen perusak negeri ini dengan menjadi koruptor, teroris, bandar narkoba atau pelaku kejahatan (kemaksiatan) lainnya.
Dirgahayu Negara Kesatuan Republik Indonesia ke 78, (17 Agustus 2023).
Terus melaju untuk Indonesia maju!