Oleh : Abdul Qodir Majid
Bukan rahasia umum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) selalu diwarnai kesepakatan politik antara calon kandidat dengan ketua partai pengusung atau Tim Sukses yang ada dilingkaran dalam ataupun luar. Kemenangan yang diperoleh dipandang sebagai kesempatan emas bagi partai pengusung dan para tim sukses tersebut.
Baca Juga: Kereta Cepat Indonesia Bersaing di Dunia
Kelompok demi kelompok pengusung datang silih berganti mengucapkan selamat sambil berbisik mesra “Selamat Pak, jangan lupa kesepakatan kita”. Setelah sang pemenang dilantik bahkan sebelum dilantik, paket kavling dibuka. Si ini dapat ini, si itu dapat itu.
Sang pengusaha mendapat kavling proyek, Sang politisi mendapat kavling kursi dan sang pejabat mendapat porsi naik tingkat. Sementara para tim supporter mendapat kavling yang akan dibagi sesuai tingkatan jasa saat berperang dalam pilkada.
Khusus yang paling dekat, tentunya mendapat porsi khusus dimana peluang paling yahud akan menjadi pilihan utama. Sebuah peluang yang akan menancapkan kepentingan jangka panjang baik secara pribadi dan politik.
Baca Juga: Harta Kekayaan Anggota DPRD Harus Dipantau Bersama dan Diketahui Masyarakat
Tak ada lagi namanya layak dan tak layak…..
Tak ada lagi namanya nya standar prioritas ….
Tak ada lagi namanya standar kualitas…
Yang ada hanyalah mengejar harapan dan ambisi dengan menggunakan jurus politik klasik yang tertuang dalam sebuah kisah berikut.
Ada seorang politisi yunior bertanya kepada politisi senior, Wahai Nyonya Ketua…. Bagaimana caranya agar sukses menjadi politisi. Sang Nyonya pun menjawab “Ketika kau ingin sukses dalam politik terus tingkatkan sepak terjang mu”.
Apa artinya itu Tanya sang politisi junior ?
Artinya “ Sepak kawan mu dan terjang musuh mu”.