Logikanya sederhana. Sistem kehidupan yang tengah mendominasi dunia adalah sistem yang sedang tidak bersahabat dengan nilai-nilai keimanan dan keislaman kita. Hampir di semua lini kehidupan terkontrol oleh sistem yang acuannya antitesis (clash) dengan nilai iman dan Islam.
Satu contoh yang paling terasa saat ini sebagai misal adalah konsep keluarga. Bahkan konsep gender yang sangat destruktif terhadap nilai yang Islam ajarkan. Bahwa dalam Islam hanya ada dua jenis kelamin manusia. Yaitu Adam (pria) dan Hawa (wanita). Di sekiranya pun ada deviasi dari bentuk atau jenis kelamin yang alami itu maka dianggap pengeculian yang Islam sejak zaman dahulu memberikan solusi alternatifnya.
Yang menjadi masalah adalah ketika konsep “deviasi” itu dibangun seolah bagian dari mainstream. Bahkan mendapat pembelaan yang extraordinary. Jangankan menentang. Tidak membela saja (mungkin netral) dianggap melanggar HAM dan nilai yang positif.
Pemaksaan pandangan tentang gender ini berimbas kepada banyak aspek lain dari kehidupan manusia. Selain mendekonstruksi konsep keluarga (laki-pria) juga berimbas kepada pandangan keagamaan. Maka Tuhan pun diposisikan pada posisi yang membingungkan. Tuhan sebagai “third party” (pihak ketiga) tidak lagi disebut “HE”. Tapi Juga enggang dengan penyebutan “SHE”. Sebagai bentuk kompromi Tuhan disebut dalam bentuk “third party” sebagai “THEY”.
Baca Juga: Refleksi Reformasi: Pengawas Pemilu sebagai Katalisator Demokrasi Transformatif Partisipatif
Intinya fitnah dalam beragama yang dihadapi oleh Ashabul Kahf ketika itu terulang, bahkan dalam bentuk yang lebih kejam. Kini iman dan Islam anda terancam, bukan karena seorang penguasa lagi. Tapi karena sistem kehidupan di semua ruang dan waktu. Sistem ekonomi, politik, sosial budaya, dan seterusnya, semuanya boleh jadi ancaman bagi kelestarian iman dan Islam kita.
Semoga Allah menjaga- Bersambung.
NYC Subway, 22 Mei 2022
Presiden Nusantara Foundation