Sampai matinya. Tercerabut dari akar budayanya. Hilang keIndonesianya. Susah untuk kembali.
Meski masih hidup, tinggal dan bernafas dan cari nafkah di negeri ini, tanpa menyebut nama kita kenal sejumlah selebritis kondang yang hijrah dan krukuban seterusnya, tidak pakai batikan dan kebaya lagi.
KeIndonesianya hanya dalam obrolan dan cap di paspor. Isi kepalanya Arab sentris.
Baca Juga: Puteri Indonesia Sulawesi Barat 2 2023 Dukung Pemerintah Ciptakan Lapangan Kerja Baru
Para pemuka agama terus menggemakan ancaman neraka bagi yang tidak berjilbab, meski secara logika, surga dan neraka masih ilusi, karena tak ada yang telah meninggal mengabar dan bersaksi.
Tak ada yang mampu memaparkan bagaimana suasana di sana yang sesungguhnya.
Keindahan dan kenikmatan surga masih fantasi dan dongeng semata.
Sedangkan fakta yang tak bisa di bantah, kita lahir di Indonesia, tumbuh besar dari bumi dan air di Indonesia, mencari nafkah di Indonesia dan – sebagian besarnya juga - akan mati di negeri di wilayah Indonesia.
Maka kita jelas berhutang pada Bumi Nusantara yang kasat mata di hari ini.
Kita berkewajiban mencintai budaya yang diturunkan oleh nenek moyang yang menurunkan kita hingga di hari ini.
Bahwa bumi ini milik Allah, dan setiap insan itu berhak tinggal di bumi Allah - itu baru klaim sepihak, sebatas yang meyakininya.
Orang lain punya keyakinan yang berbeda, dan punya pemahaman sendiri.
Faktanya, kebaya, sanggul, kain songket, sorjan, blangkon, adalah milik kita.
Warisan leluhur kita. Sedangkan hijab, jilbab, burqa pakaian jazirah Arab – produk budaya asing.
Juga bukan pakaian umat Islam semata. Sebab di gurun pasir sana, warga Yahudi, Kristiani, Majusi, bahkan agnostik, juga memakai busana yang sama.