Top 3 platform yang paling banyak penggunanya adalah Facebook (52,5 persen), Instagram (31, 1 persen) dan Tiktok (29,4 persen). Pengguna Twitter hanya 8.3 persen.
Di tingkat dunia, secara demografi, profil pemilih pengguna internet media sosial lebih banyak di kalangan usia 50 tahun ke bawah (79 persen), pria dan wanita hampir seimbang, walau lebih banyak wanita (75 persen), lebih banyak penduduk kota (73 persen), pendidikan dan penghasilan tinggi (SMA ke atas, 5 juta rupiah sebulan ke atas) 72 persen.
-000-
Bagaimanapun himbauan diberikan, politik akan terjadi seperti biasa. Politics as Usual. Hoax, berita palsu, dan politisasi agama akan meluas di tahun politik 2024.
Politik digital memudahkan dan membuat penyebaran hoax dan politik identitas menjadi murah. Ini semua dilakukan dengan persepsi bahwa hoax dan politik identitas itu akan membantu
Kemenangan calon pemimpin tertentu di segmen pemilih tertentu pula.
Mereka yang peduli terhadap meluasnya dan massifnya hoax, berita palsu dan politisasi agama di ruang publik dapat mengimbangi.
Yaitu dengan memposting berita yang meluruskan, dan mengoreksi di internet secara cepat dan massif.
Berita pengimbang itu dapat muncul cepat di Google Search melalui FACT CHECKER. Pemerintah selaku wasit pemilu harus peduli mengembangkan secara massif fasilitas FACT CHECKER.
Begitu kompleksnya politik digital tapi penting, topik ini menjadi bagian dari Mini MBA Marketing Politik. Ini kelas yang dibuat kerjasama antara LSI Denny JA, SBM ITB dan Koenci.
Politik digital dalam pemilu kita berlakukan seperti menerima setangkai bunga mawar yang berduri. Kita nikmati bunganya, namun hati- hati dengan durinya.