opini

Isu Akses Pendidikan, Sebuah Ketimpangan yang Perlu Dijembatani

Jumat, 29 Mei 2026 | 04:30 WIB
Fotografis akses pendidikan bagi perempuan di Sukabumi. (FOTO: Ist)

Oleh: Desi Rahmawati (Komisariat PMII STAI Kharisma Sukabumi)

Menurut Data di Sukabumi menunjukkan anak perempuan masih tertinggal dalam pendidikan. Hanya 47 dari 100 perempuan yang tamat SMA, sementara laki-laki 57 dari 100.

Rata-rata masa sekolah mereka juga lebih pendek. Bahkan sejak SMP, sudah terlihat perbedaan. Di Kabupaten Sukabumi, partisipasi sekolah laki-laki di jenjang ini 76,38%, sementara perempuan 75,28%. Memang selisihnya kecil, tapi ini sinyal awal bahwa anak perempuan mulai tersisih.

Salah satu penyebab utamanya adalah pandangan tradisional masyarakat. Anak laki-laki masih dianggap sebagai calon pemimpin keluarga dan masa depan, jadi pendidikan tinggi lebih diprioritaskan untuk mereka.

Sementara anak perempuan, meski tidak dilarang sekolah, sering dianggap tidak perlu setinggi-tingginya karena pada akhirnya “hanya” akan mengurus rumah tangga. Akibatnya, kalau keluarga punya pilihan, pendidikan anak perempuan jadi korbannya.

Selain itu, faktor kondisi ekonomi keluarga juga jadi pemicu. Ketika uang pas-pasan, banyak orang tua memilih menyekolahkan anak laki-laki karena mereka melihat peluang kerja lulusan SMA lebih terbuka bagi laki-laki.

Padahal, di sisi lain, anak perempuan justru diberi beban ganda: selain sekolah, mereka juga harus membantu pekerjaan rumah.

Kalau ekonomi terdesak, mereka lebih dulu ditarik dari bangku sekolah untuk membantu orang tua. Dinas Pendidikan Kota Sukabumi mencatat sekitar 600 siswa terancam putus sekolah, dan faktor ekonomi jadi alasan utamanya.

Upaya Pemerintah daerah sebenarnya sudah meluncurkan beberapa program. Ada "Sekolah Perempuan" dari DP3A dan DP2KBP3A yang mengajarkan soal kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan kesetaraan gender. Ada juga program "Perahu Kertas" yang jadi proyek prioritas sampai 2026, tujuannya meningkatkan wawasan perempuan.

Sayangnya, program-program ini lebih banyak menyasar ibu-ibu rumah tangga yang sudah dewasa, bukan anak-anak perempuan yang masih berisiko putus sekolah. Sifatnya agak reaktif, bukan pencegahan dini. Jangkauannya juga belum merata sampai ke pelosok-pelosok.

Akibat dari kesenjangan ini nyata. Anak perempuan yang putus sekolah lebih rentan mengalami pernikahan dini, terjerat kemiskinan, dan sulit mendapatkan pekerjaan yang layak.

Lingkaran setan ini sulit diputus kalau tidak ada kerja sama yang erat. Dinas Pendidikan perlu bergandengan tangan dengan dinas yang mengurusi pemberdayaan perempuan.

Sosialisasi soal pentingnya pendidikan bagi anak perempuan harus digencarkan sampai ke tingkat RT dan RW. Dan bantuan beasiswa atau operasional sekolah harus lebih tepat sasaran, terutama bagi keluarga dengan anak perempuan di jenjang yang rawan putus sekolah.

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB