Kesulitan para pengurus sendiri untuk kompak dan hadir dalam rapat (seperti hanya 20 orang hadir dari 50 pengurus).
Meskipun Hadratussyaikh pernah berkata, "siapa yang mau mengurus NU, aku anggap santriku, dan siapa yang menjadi santriku, aku doakan khusnul khotimah beserta keluarganya," implementasinya tetap menjadi tantangan.
Bagi pengurus NU di semua tingkatan, termasuk pengurus Banom-Banom NU, hal ini adalah sebuah tantangan. Dalam berkhidmat dan menjalankan organisasi, NU harus bertransformasi dari sekadar "kerumunan" menjadi "kekuatan besar, kuat, dan kokoh". Organisasi harus menjadi kolektif kolegial, satu visi dan misi, serta kompak dalam menerima amanah para ulama ini.
Hal ini memang berat, tetapi dengan keikhlasan dan fokus pada satu kepentingan (berkhidmat untuk agama, bangsa, dan negara, serta menjalankan tujuan ber-NU), insya Allah para pendiri NU akan mendampingi dan "merestui" upaya tersebut.
Harapan
Diharapkan para pengurus NU senantiasa ingat akan tujuan awal NU didirikan, berpegang teguh pada Qanun Asasi dan Khittah. Mereka harus selalu kompak, tidak "sendiri-sendiri," dihindarkan dari "perpecahan," dan tidak tergoda oleh "pragmatisme sesaat" yang dapat merusak dan merugikan bukan hanya NU secara organisasi, tetapi juga masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Karena sejatinya, NU Adalah NKRI, NKRI adalah NU, dan keduanya tidak bisa dipisahkan.
Wallahu A'lam Bish-Shawab