opini

Lika-Liku Mahbub Djunaidi : Dari HMI ke PMII

Sabtu, 19 Juli 2025 | 10:00 WIB
Logo PMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia memang lahir dan dibentuk melalui forum Musyawarah Mahasiswa NU yang diadakan di Gedung Madrasah Muallimin Nahdlatul ‘Ulama (Gedung Yayasan Khadijah) di Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur pada 14-16 April 1960. Hasil Musyawarah itu kemudian diumumkan di Balai Pemuda, pada 17 April 1960 bertepatan dengan tanggal 21 Syawal 1379 Hijriyah. Sejak saat itulah, 17 April 1960 kemudian menjadi tonggak sebagai hari jadi PMII.

Berdirinya PMII ini merupakan buah dari pembentukan intelegensia NU yang dimulai sejak tahun 1950-an. Di saat itu, di tahun-tahun 50-an, sebagaimana dituturkan oleh Yudi Latif dalam Intelegensia Muslim dan Kuasa : Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad ke-20, intelegensia muslim reformis-modernis telah menjadi bagian dari elite politik yang berkuasa, sedangkan intelegensia muslim-tradisionalis baru mulai masuk di perguruan tinggi dan universitas (hlm.431).

Rudolf Mrazek, sebagaimana dikutip oleh Yudi Latif dalam buku yang sama, menggambarkan dengan bagus ikhwal kelangkaan intelegensia muslim-tradisionalis yang berpendidikan tinggi. Saat itu, di tahun 1955, menjelang pemilu pertama pasca kemerdekaan, Ketua Partai Sosialis Indonesia, Sutan Sjahrir, mengatakan kepada seorang sosialis Belanda, Salomon Tas, bahwa seorang pemimpin NU telah mendatangi Sjahrir untuk meminta bantuan menempatkan beberapa intelektual dari kelompoknya untuk membantu NU yang secara praktis tidak memiliki kader.

“Namun, aku tak bisa membantunya. Orang-orangku merasa sangat bosan sekali jika berhadapan dengan orang-orang semacam itu,”kata Sjahrir.

Kembali pada pembahasan Mahbub Djunaidi tadi. Seperti tak kenal lelah dan putus asa. Hussein Badjerei kembali menekan dan meneror Mahbub Djunaidi untuk segera mengundurkan diri dari PB HMI. Mahbub malah menjawab dengan sangat diplomatis : “PMII tidak melarang pimpinan terasnya merangkap pimpinan organisasi lain!”,jawab Mahbub.

Tak berhenti di sana saja teror yang dilakukan oleh Hussein Badjerei. Dalam sebuah rapat harian, ia mengusulkan agar Mahbub dipecat saja, yang kemudian dijawab oleh Buya Ismail Hasan Metareum sambil ketawa, “entee....nih!”.

Penting untuk diketahui di sini, teror yang dilakukan oleh Hussein Badjerei kepada Mahbub Djunaidi itu dilakukan sebagai bumbu persahabatan dikarenakan kedekatan mereka yang sangat erat sekali. Semua Pengurus Besar HMI kala itu sangat mafhum, betapa akrabnya Mahbub dan Hussein Badjerei. Meski berbeda latar belakang organisasi keagamaan di antara kedua orang itu, Mahbub berlatar belakang NU, sedangkan Hussein Badjerei berlatarbelakang Al-Irsyad, sebuah organisasi yang bertolak belakang pemahaman keagamaan dengan NU.

Uniknya, di HMI keduanya tetap bisa bercanda, guyon, dan tetap guyub dalam kerangka menjaga persatuan Islam. Hingga akhir periode Hasan Metareum, persoalan Mahbub yang merangkap jabatan dibiarkan mengambang hingga akhir masa bakti kepengurusan.

*Penulis adalah Kerani Arsip Historia HMI/Jurnalis Jatim Update

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB