Oleh : MS. As-Syadzili
Waktu itu Minggu, 1 Oktober 1995, mentari pagi belum lagi muncul menguarkan sinarnya. Namun, di rumah yang terletak di Jalan Taman Karawitan No.1 Bandung, sudah tampak diriungi oleh para pelayat yang berdatangan untuk bertakziah atas berpulangnya kepala keluarga di rumah itu.
Sebagian besar para pelayat itu adalah anak-anak geng motor de Condors. Mereka menunggu di rumah itu untuk memakamkan sosok yang akrab dan dekat dengan kehidupan anak-anak geng motor. Selepas dhuhur, jenazah itu pun kemudian dimandikan lalu disholatkan.
Seusai sholat dhuhur ditegakkan, jenazah kelahiran Jakarta 27 Juli 1933 itu kemudian dinaikkan ambulans menuju pemakaman Al-Islam di Zona Caringan Bandung, Jawa Barat. Kala itu, perjalanan dari Kliningan ke pemakaman Al-Islam bukanlah pemandangan biasa. Bagaimana tidak. Ia berpulang seperti layaknya seorang Presiden. Motor-motor yang dikendarai oleh anak-anak geng motor de Condor berada di depan, di kiri, di kanan dan belakang dari ambulans itu mengawal perjalanan sang tokoh ke peristirahatannya yang terakhir. Iring-iringan pengantar jenazah itu mengular sangat panjang.
Saat itu, lampu lalu lintas di tiap perempatan tak berfungsi hingga membuat ambulans melaju tanpa ada hambatan. Keinginannya untuk meninggal ala Presiden, akhirnya kesampaian juga. Pemakaman layaknya seorang Presiden itu tergambar dalam pemakaman sosok jurnalis, kolumnis, sastrawan, aktivis cum politisi, Mahbub Djunaidi.
Beberapa bulan sebelumnya, Mahbub Djunaidi sempat berpesan kepada anaknya, Isfandiari. Harapannya hanya satu, kelak saat ia meninggal dunia, ia ingin dimakamkan layaknya seorang Presiden.
“Liat aja kalau Presiden meninggal, dari rumah ampe kuburnya dikawal pakai motor-motor. Tiap perempatan diberhentiin. Papa jadi VVIP sampai kuburan. Pokoknya heboh deh. Itu aja kemauan papa,” kata Mahbub sebagaimana pengakuan Isfandiari dalam Bung : Memoar tentang Mahbub Djunaidi.
Kepergiannya, tentu meninggalkan duka yang sangat mendalam. Tak hanya bagi keluarga Mahbub dan keluarga besar PMII. Melainkan juga bagi keluarga besar HMI dan teman-teman dekatnya yang dulu pernah berproses di HMI. Di kalangan aktivis pergerakan, Mahbub Djunaidi lebih dikenal sebagai Ketua Umum PB PMII selama dua periode, periode 1960-1967.
Jauh sebelumnya, Mahbub merupakan aktivis organisasi Himpunan Mahasiswa Islam. Bahkan posisinya di HMI sangatlah strategis. Mahbub menjabat sebagai Ketua Departemen Pendidikan. Sebuah posisi yang sangat strategis sekelas Ketua Bidang PB HMI saat ini.
Seperti diungkap dalam Sketsa Kehidupan dan Surat-surat Pribadi Sang Pendekar Pena Mahbub Djunaidi, tokoh Al-Irsyad sekaligus kawan dekat Mahbub, Hussein Badjerei, menuturkan bahwa ia dan Mahbub sama-sama masuk HMI dan bersama-sama pula masuk dalam lingkaran elit di PB HMI. Hussein Badjerei menjabat sebagai Ketua Departemen Penerangan, sedangkan Mahbub menjabat sebagai Ketua Departemen Pendidikan di era kepengurusan Ismail Hasan Metareum (hlm.33)
Dikarenakan posisinya yang strategis itu, Mahbub sempat juga dikirim ke Aloka oleh PB HMI. Di sana, ia berangkat untuk mengikuti training kepemimpinan bersama jajaran Pengurus Besar lainnya. Pada waktu di PB HMI itu pulalah, departemen yang dibawahi oleh Mahbub dan Hussein Badjerei mengadakan kerjasama kegiatan, Perkemahan Kerja (Work Camp) di Desa Baros, Sukabumi, Jawa Barat. Inilah cikal bakal dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sering dilakukan oleh segenap mahasiswa Indonesia yang sudah menginjak tahap akhir dari perkuliahannya. Di desa Baros itulah, gelar Buya disematkan oleh Mahbub Djunaidi kepada Ismail Hasan Metareum. Panggilan Buya kepada Ismail Hasan Metareum kemudian melekat hingga saat ia memimpin partai berasas Islam, Partai Persatuan Pembangunan.
Rangkap Jabatan Mahbub Djunaidi
Dalam hal rangkap jabatan, organisasi yang lebih dikenal dengan julukan Hijau Hitam, memang lebih ketat dibanding organisasi kemahasiswaan lainnya. Termasuk juga saat Mahbub diangkat sebagai Ketua Umum PB PMII di tahun 1960-an. Mahbub masih duduk di PB HMI sebagai pejabat teras saat ia diangkat menjadi Ketua Umum PB PMII.
Atas hal tersebut, Hussein Badjerei pernah menegur Mahbub terkait ketentuan disiplin organisasi HMI yang tidak memperbolehkan pejabat terasnya merangkap pimpinan organisasi lain. Alih-alih diperdulikan, Mahbub malah mengelak dengan alasan, “gue kan nggak hadir di Kongres Surabaya!,” jawabnya lugas dan enteng pada Hussein Badjerei.