Journalnusantara.com - Kebudayaan merupakan warisan hidup yang membentuk jati diri sebuah bangsa.
Menurut Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada, kebudayaan tidak hanya mencakup seni, bahasa, atau adat istiadat, tetapi mencerminkan sistem nilai, pengetahuan, dan cara hidup suatu masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kebudayaan adalah fondasi yang menyatukan perbedaan dan membangun kohesi sosial dalam masyarakat yang multikultural seperti Indonesia.
Dalam pandangannya, kebudayaan harus dipahami sebagai proses dinamis. Artinya, kebudayaan tidak bersifat statis atau kuno, melainkan senantiasa berubah dan menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman.
“Salah satu kesalahan besar dalam memahami kebudayaan adalah menganggapnya sebagai sesuatu yang harus dilestarikan tanpa perubahan. Padahal, inti dari kebudayaan adalah kemampuannya beradaptasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa globalisasi membawa tantangan sekaligus peluang bagi pelestarian budaya lokal. Di satu sisi, arus informasi yang cepat dapat menyebabkan hilangnya identitas budaya karena tergerus oleh budaya global.
Namun lanjutnya di sisi lain, teknologi juga bisa menjadi alat yang ampuh untuk mendokumentasikan, mempromosikan, dan mengembangkan budaya lokal ke panggung dunia.
Prof. Heddy juga menekankan pentingnya pendidikan budaya sejak dini. “Jika kita ingin generasi muda mencintai budayanya, maka mereka harus dikenalkan pada akar kebudayaan mereka melalui pendidikan formal maupun informal,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menyarankan integrasi nilai-nilai budaya ke dalam kurikulum pendidikan nasional sebagai langkah strategis memperkuat karakter bangsa.
Dengan memahami kebudayaan sebagai sistem nilai dan cara hidup yang terus berkembang, bangsa Indonesia memiliki bekal kuat untuk menghadapi masa depan.
Pelestarian budaya tidak berarti menolak modernitas, tetapi justru menjadikan budaya sebagai landasan untuk melangkah maju secara berdaulat di tengah arus global.