Ada ketenangan yang tak bisa dijelaskan, ada rasa damai yang melampaui logika. Inilah yang dimaksud oleh Rabiah Al-Adawiyah, ketika ia berkata, “Aku tidak menyembah Tuhan karena takut neraka, ataupun mengharap surga. Aku menyembah-Nya karena aku mencintai-Nya.”
Ramadan mengajarkan bahwa ibadah bukanlah transaksi antara manusia dan Tuhan. Bukan pula sekadar timbangan pahala dan dosa, tetapi sebuah perjalanan cinta. Dalam keheningan sujud yang panjang, dzikir yang berulang, kita merasakan hubungan dengan Tuhan tumbuh dengan kerinduan.
Dalam konteks tersebut, kita belajar untuk melepaskan. Melepaskan ego, kesombongan, dan segala sesuatu yang menghalangi dari cahaya-Nya. Ibn Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Ketika kau berpuasa, dunia akan terlihat lebih kecil, dan akhirat akan terlihat lebih nyata.” Dalam arti, melalui keheningan Ramadan, kita melihat hidup dengan perspektif yang berbeda.
Keheningan Ramadan bukanlah sesuatu yang hanya kita rasakan sekali dalam setahun. Ia adalah sesuatu yang seharusnya kita bawa ke dalam keseharian kita. Sebab dalam diam, kita belajar mendengar, dan dalam kesunyian kita menemukan makna.
Oleh sebab itu, ada nasehat Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang patut kita renungkan, “Jangan biarkan Ramadan pergi tanpa mengubahmu. Jika Ramadan berlalu tetapi dirimu tetap sama, maka sesungguhnya yang lapar hanya perutmu, bukan jiwamu.” Semoga Ramadan yang kita jalani meninggalkan jejak dalam jiwa untuk selamanya.
*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.