Oleh: Agung Wibawanto
Presiden Prabowo Subianto menyoroti investasi saham yang menurutnya merugikan investor kecil. Katanya, jika orang kecil main-main saham, pasti kalah. Yang menang pasti bandar besar.
"Tiap detik lihat TV lihat apa itu harga saham turun 0,0 sekian wah panik hitung lagi haduh hidup stres aku nggak mau lah. Dan saya kasih tahu ya main-main saham itu kalau orang kecil ya pasti kalah, itu untuk orang kecil itu biasanya sama dengan judi itu yang menang ya bandar yang besar yang kuat ya kan?" tuturnya.
Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus pengamat pasar modal Budi Frensidy menyoroti pernyataan Prabowo yang menyebut saham sebagai bentuk perjudian. Pernyataan tersebut dinilai memicu gelombang panic selling, terutama pada saham perbankan BUMN yang menjadi pilar utama IHSG.
Budi menilai, pernyataan tersebut menjadi sinyal negatif bagi investor institusional yang mengandalkan stabilitas kebijakan. Hingga saat ini, ia menilai belum ada langkah konkret dari pemerintah untuk mendukung pasar modal.
"Jadi, dukungannya masih belum ada sama sekali," ungkap Budi kepada CNBC Indonesia, Rabu, (19/3/2025).
Ia pun menilai, pemerintah perlu segera mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang berdampak sistemik. Keterlibatan aktif para pemangku kepentingan termasuk Bank Indonesia, OJK, dan pelaku pasar menjadi krusial untuk merancang solusi yang tidak hanya bersifat populis, tetapi juga berkelanjutan.
"Pemerintah dapat meneken kebijakan pengelola dana publik di negara ini (Jamsostek, Taspen, Asgara, Dana Pensiun BUMN, dll) untuk menjadi market maker atau liquidity provider di bursa saham, minimal terhadap saham berkapitalisasi besar dengan fundamental bagus dan BUMN," kata Budi.
Sementara itu, Ekonom Yanuar Rizky menyebut, pengelolaan fiskal dan moneter yang dinahkodai Presiden menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas keuangan nasional di tengah volatilitas global. Menurutnya, selama ini ada persaingan antara saham dan SRBI dalam menarik dana investor, yang semakin menekan pasar modal.
"SRBI bunganya di atas yield, tapi tak se dinamis pasar sekunder di SUN. Maka; bunga riil dalam menekan lelang bunga kupon SUN akan dilakukan dari saham. Itu maknanya, maka kupon SUN baru mendekat ke angka rate SRBI dan akan bersaing ama yield volatilitas saham," terangnya.
Yanuar menilai, pemerintah perlu segera memberikan sinyal kepercayaan kepada pasar agar stabilitas dapat terjaga. Pengelolaan fiskal yang transparan dan tegas dinilai lebih penting daripada sekadar manuver politik di bursa saham.
"Jadi, pilihan ada di Presiden, sinyalnya harus menunjukan pengelolaan fiskal yang bukan soal siapa Menteri Keuangan (Menkeu) atau DPR yang aksi datang ke bursa," tandas Yanuar.
Senada, Analis Stock Now Hendra Wardana mengatakan, Faktor-faktor pemicu seperti spekulasi terkait posisi Menteri Keuangan Sri Mulyani (meski sudah dibantah), defisit fiskal yang muncul lebih awal, serta melemahnya penerimaan pajak, menunjukkan bahwa pasar membutuhkan kepastian dan kebijakan yang lebih pro-pasar dari pemerintah.
"Presiden harus segera mengambil langkah-langkah konkret untuk menenangkan pasar, baik melalui pernyataan yang tegas maupun kebijakan nyata yang dapat meningkatkan kepercayaan investor," tutur Hendra.
Sementara itu, kebalikkan dari bos nya sendiri, Menkeu Sri Mulyani justru ingin materi bursa saham diajarkan ke tingkat SD, "Jual-beli saham sekarang seharusnya sudah mulai diajarkan bukan di tingkat mahasiswa lagi, tapi bahkan di tingkat sekolah dasar. Sehingga mereka menjadi getting familiar with bursa efek,” ujar Sri Mulyani di Gedung BEJ, Kamis, 2/1/2025.