opini

Kembali ke Cahaya Ilahi

Rabu, 19 Maret 2025 | 07:08 WIB
Mohamad Sinal


Oleh Mohamad Sinal

Zaman berlari begitu cepat, membawa perubahan yang sangat hebat. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, mengguncang sendi-sendi kehidupan begitu dahsyat. Dalam pusaran tersebut, tidak sedikit manusia yang tersesat.

Al-Qur’an hadir sebagai cahaya, sebagai lentera yang tak pernah redup dalam membimbing umat manusia. Cahaya yang dapat menerangi kegelapan. Cahaya untuk menghadapi tantangan zaman.

Allah berfirman dalam Surah An-Nur ayat 35: “Allah adalah cahaya langit dan bumi…” Oleh banyak mufassir, ayat tersebut dimaknai sebagai petunjuk bagi orang-orang yang mencari kebenaran. Ibnu Katsir menyatakan bahwa cahaya Allah ini menyimbolkan hidayah yang memandu manusia dari kegelapan menuju terang.

Dalam dunia modern yang penuh dengan disrupsi, Al-Qur’an menjadi kompas yang mengarahkan manusia ke jalan yang lurus. Fakhruddin Ar-Razi menyatakan, cahaya dalam ayat tersebut adalah bentuk dari ilmu dan hikmah. Ilmu yang tidak hanya bersandar pada rasionalistas, tetapi juga nilai-nilai spiritualitas.

Ilmu yang hanya bersandar pada rasionalitas tanpa dibimbing oleh wahyu cenderung menghasilkan kesesatan. Teknologi maju tanpa etika dapat menciptakan kehancuran. Dengan demikian, cahaya Al-Qur’an diperlukan untuk menyeimbangkan perkembangan ilmu dengan nilai-nilai spiritual.

Menjawab Tantangan Zaman dengan Cahaya Al-Qur’an

Tantangan zaman sangat beragam. Mulai dari krisis moral, ketidakadilan sosial, hingga kecenderungan manusia yang semakin materialistis. Dalam menghadapi hal tersebut, Al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip dasar yang tetap relevan sepanjang masa.

Dalam menghadapi krisis moral, Al-Qur’an menegaskan pentingnya akhlak mulia. Hal tersebut dinyatakan dalam Surah Al-Qalam ayat 4: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Ayat ini mencerminkan tentang teladan universal dalam membangun peradaban yang berbasis pada akhlak yang luhur.

Dalam masyarakat yang penuh dengan ujaran kebencian, manipulasi, dan kepalsuan, meneladani akhlak Rasulullah adalah solusi bagi keharmonisan sosial. Al-Qur’an menyerukan keseimbangan dan keadilan, sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 135: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu orang-orang yang benar-benar menegakkan keadilan, ….” Ayat ini menekankan bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa memihak, meskipun bertentangan dengan kepentingan pribadi.

Dalam menghadapi tantangan zaman yang berbasis teknologi, kita sering dihadapkan pada pertanyaan: apakah Al-Qur’an masih relevan di era sains modern? Jawabannya, Al-Qur’an adalah sumber inspirasi utama bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Surah Al-Alaq ayat 1-5 telah menjadi landasan bagi semangat keilmuan Islam sejak abad pertengahan.

Dalam tafsir Al-Maraghi dijelaskan bahwa surah Al-Alaq tersebut, bukan hanya perintah untuk membaca secara tekstual, tetapi juga kontekstual. Yaitu membaca tanda-tanda alam dan memahami hukum-hukum yang mengatur kehidupan. Oleh sebab itu, ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pemahaman akan kebesaran Allah justru memperkuat iman, bukan sebaliknya.

Para ilmuwan muslim terdahulu, seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi menemukan harmoni antara sains dan wahyu. Keduanya menyatakan bahwa sains dan wahyu berasal dari sumber yang sama, yaitu Tuhan. Dengan demikian, kita pun dapat meneladani mereka untuk menjadikan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan.

Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal dan dibaca. Lebih dari itu, ia harus menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa keberkahan Al-Qur’an hanya dapat dirasakan oleh mereka yang mengamalkannya.

Dalam menghadapi era digital yang penuh dengan disinformasi dan fitnah, kita perlu meneladani nilai-nilai Al-Qur’an dalam berkomunikasi. Surah Al-Hujurat ayat 6 mengajarkan kita untuk selalu verifikasi (tabayyun) sebelum menyebarkan informasi. Dengan menerapkan prinsip ini, kita dapat membangun masyarakat yang lebih sehat secara intelektual dan moral.

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB