opini

Isra’ Mi’raj dan Realita Umat - 07

Kamis, 6 Februari 2025 | 09:47 WIB
Ilustrasi Isra Miraj. (freepik.com/pikisuperstar)

Terlepas dari cerita ikut atau tidak ikutnya Jibril dalam perjalanan melewati langit ketujuh, Rasulullah sampai ke ketinggian puncak dari perjalanan itu. Di sana beliau melihat pepohonan dengan dedaunan yang sangat indah dan warna warni yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Sebagian riwayat menyebutkan dedaunan pohon itu bagaikan telinga gajah, dan buah-buahnya bagaikan hajar aswad. Tentu penggambaran ini bersifat metaforik karena sifatnya yang di luar batas manusia memahaminya.

Rasulullah SAW kemudian mendengarkan suara Tuhan. Para Ulama sepakat bahwa Muhammad tidak melihat wujud fisik Tuhannya. Aisyiah RA bahkan mengatakan: “barangsiapa yang mengaku jika Rasulullah melihat Tuhan ketika Ista Mi’raj maka sungguh telah berbohong”. Namun yang pasti beliau mendengar suara yang menyampaikan tiga hal:

Allah Subhanah menyampaikan dan meyakinkan bahwa setiap umat Muhammad yang beriman kepada Laa ilaaha illallah dan meninggal tanpa ada kesyirikan dijamin masuk syurga.
Allah menyampaikan “khawaatim Al-Baqarah” atau dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah.
Dan yang paling masyhur adalah perintah kepada Rasulullah dan umatnya untuk melaksanakan Sholat-Sholat fardhu sebanyak 50 kali sehari semalam.

Ada beberapa cerita yang menyampaikan bahwa ketika Rasulullah berada di Sidratul Muntaha itu terjadi dialog seperti yang dibaca ketika tasyahhud. Rasulullah memberikan salam kepada Allah: “Attahiyatu lillahi wassolawatu wattoyyibatu “. Lalu konon Allah merespon: “Assalamu alaikum ayyuhan Nabi”… dan seterusnya.

Cerita di atas tidak memiliki landasan keagamaan yang jelas. Sehingga menjadi cerita yang “qiila wa qaala” dan tersebar dan menjadi masyhur sehingga seolah dianggap bagian dari cerita yang berbasis agama. Sayangnya banyak penceramah menyampaikan ceramah tanpa rujukan yang jelas dari Al-Quran dan Sunnah. Apalagi di zaman di mana penceramah-penceramah agama digandrungi karena keartisannya (popularitasnya).

Setelah menerima tiga hal di atas, Rasulullah kemudian turun bertemu dengan Jibril di langit ketujuh tempat di mana Ibrahim AS bermukim. Jibril dan Muhammad melewati langit ketujuh tanpa ada percakapan dengan Ibrahim AS.

Namun ketika turun ke langit keenam di mana Musa AS bermukim, beliau langsung ditanya oleh Nabi Musa: “Wahai Muhammad, apa yang diperintahkan Tuhan?”. Rasulullah SAW menjawab: “Allah memerintahkan kepadaku dan umatku 50 kali Sholat sehari semalam”. Mendengar itu Musa mengatakan: “kembalilah kepada Tuhan dan minta keringanan. Karena ummatku (secara fisik) lebih kuat dari umatmu tapi mereka tidak mampu melaksanakan sebanyak itu”.

Mendengar usulan Musa AS itu, Rasulullah tidak langsung menerima dan melaksanakannya. Justeru beliau menengok ke Jibril seolah meminta pendapat (second opinion). Jibril
Kemudian mengangguk menyetujui usulan Musa AS. Rasulullah pun naik lagi ke Sidratul Muntaha dan meminta keringanan jumlah sholat yang harus ditunaikan. Allah menyetujui pengurangan jumlah dari 50 ke 40. Namun ketika turun ke Musa beliau masih menyuruhnya agar meminta keringanan lagi. Singkat cerita Rasulullah beberapa kali bolak balik dari 40 ke 30 lalu 20 dan akhirnya 5 kali Sholat sehari semalam.

Ketika Musa bertanya berapa jumlah kewajiban sholat sehari semalam dan Rasulullah menyampaikan kalau beliau diperintah 5 kali sehari semalam, Musa masih menganjurkan beliau agar kembali meminta keringanan. Namun Rasulullah SAW menolak dengan mengatakan: “Saya malu kepada Tuhanku”.

Di saat terjadi dialog antara Musa dan Muhammad itu tiba-tiba terdengar suara yang berseru (fanaada munaadin): “Aku mewajibkan kamu Sholat 5 waktu. Namun keputusan Aku lima puluh tidak lagi berubah. Karenanya sholatlah 5 waktu. Namun pahalaKu tetap 50 kali.” Jumlah kewajiban dikurangi menjadi 5 kali. Namun pahala awal 50 kali tetap diberikan 50 pahala. Betapa maha Rahman dan maha baiknya Allah SWT.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah kenapa ketika melewati langit ketujuh Ibtahim AS tidak bertanya tentang apa yang diperintahkan oleh Allah kepada Rasulullah? Lalu Kenapa Musa yang menanyakan itu?

Ada benaran argumen yang bisa disampaikan dalam hal ini:

Satu, Ibrahim dan Musa adalah dua nabi yang agung dari kalangan ulul azmi. Tapi keduanya memiliki kepribadian yang berbeda. Ibrahim cenderung menerima dan tidak pernah mempertanyakan apapun yang diperintahkan Allah padanya. Sementara Musa memiliki tingkat kuriositas yang sangat tinggi. Mungkin kita masih ingat kisah Musa dan Khaidir?

Dua, Musa pernah mengalami audiensi dengan Allah ketika menerima wahyu di bukit Sinai. Sehingga pengalaman ini mendorong dia untuk bertanya. Ibrahim AS adalah khalilullah (kekasih Allah). Tapi tidak pernah secara langsung beraudiensi dengan Tuhan.

Tiga, Musa pengalaman menghadapi umat dengan jumlah besar. Sehingga pertimbangannya selalu merujuk kepada umatnya. Demikian juga Muhamad SAW yang dalam pengambilan keputusan selalu mempertimbangkan umatnya. Bukankah Ketika beliau akan meninggal dunia beliau memanggil-manggil umatnya: ummati, ummati ummati!”.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB