opini

Isra’ Mi’raj dan Realita Umat - 07

Kamis, 6 Februari 2025 | 09:47 WIB
Ilustrasi Isra Miraj. (freepik.com/pikisuperstar)

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah kenapa ketika melewati langit ketujuh Ibtahim AS tidak bertanya tentang apa yang diperintahkan oleh Allah kepada Rasulullah? Lalu Kenapa Musa yang menanyakan itu?

Ada benaran argumen yang bisa disampaikan dalam hal ini:

Satu, Ibrahim dan Musa adalah dua nabi yang agung dari kalangan ulul azmi. Tapi keduanya memiliki kepribadian yang berbeda. Ibrahim cenderung menerima dan tidak pernah mempertanyakan apapun yang diperintahkan Allah padanya. Sementara Musa memiliki tingkat kuriositas yang sangat tinggi. Mungkin kita masih ingat kisah Musa dan Khaidir?

Dua, Musa pernah mengalami audiensi dengan Allah ketika menerima wahyu di bukit Sinai. Sehingga pengalaman ini mendorong dia untuk bertanya. Ibrahim AS adalah khalilullah (kekasih Allah). Tapi tidak pernah secara langsung beraudiensi dengan Tuhan.

Tiga, Musa pengalaman menghadapi umat dengan jumlah besar. Sehingga pertimbangannya selalu merujuk kepada umatnya. Demikian juga Muhamad SAW yang dalam pengambilan keputusan selalu mempertimbangkan umatnya. Bukankah Ketika beliau akan meninggal dunia beliau memanggil-manggil umatnya: ummati, ummati ummati!”.

Saya akan mengakhiri catatan ini dengan mengingatkan kita semua bahwa dari sekian banyak hikmah perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW, sholatlah yang menjadi tema sentra dari semuanya. Jika ini dikembalikan kepada konteks latar belakang perjalanan Isra Mi’raj karena tantangan dan kesulitan yang dihadapi ketika itu, maka dapat dikatakan Sholat sesungguhnya diberikan sebagai kunci pintu keluar dari berbagai tangangan dan kesulitan.

Untuk umat ini Sholat adalah Mi’raj. Perjalan vertikal bagi mereka secara ruhiyah bertemu Tuhan dan menyampaikan segala keluh kesah dan harapan. Sholat pada akhirnya menjadi tiang agama, pembeda antara keimanan dan kekafiran, dan penentu diterima atau ditolaknya segala amalan kita (pertama dihisab di hari Kiamat nanti).

Semoga kita semua mampu menjaga Sholat-Sholat kita. Mampu mengajarkan Sholat kepada anak dan generasi kita. Karena kehancuran generasi salah satunya ditandai oleh “mereka meninggalkan Sholat”(adho’us Sholawat).

Semoga Allah jaga kita semua. Amin!

Bersambung….!

*Direktur Jamaica Muslim Center / Presiden Nusantara Foundation Isra’ Mi’raj dan Realita Umat- 07
Oleh Imam Shamsi Ali*

Ada satu cerita yang terlupakan di episode lalu. Disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW ketemu Musa dan akan meninggalkannya, Rasulullah melihat Musa menangis. Rasulullah bertanya kepada Jibril: “kenapa gerangan Musa menangis?”. Jibril menjawab: “Musa sedih karena umat kamu lebih banyak dari umatnya. Tapi yang terpenting lagi, penghuni syurga dari umat kamu jauh lebih besar ketimbang umat Musa”.

Satu catatan penting bahwa betapa para nabi itu berlomba-lomba dalam memperbanyak pengikut (untuk kebaikan, hidayah dan syurga). Mereka saling iri (positive jealousy) melihat yang lain lebih banyak yang berhasil diajak ke jalan Allah dan masuk syurga. Itu yang menjadikan nabi Musa AS menangis dan bersedih membandingkan umatnya dan umat Muhammad SAW.

Dari langit ke tujuh setelah berjumpa dengan Ibrahim AS, selanjutnya menaiki apa yang disebut “Sidratul Muntaha” (akhir dari segala akhir). Ada banyak penafsiran tentang Sidratul Muntaha ini. Dan masing-masing menggambarkan keindahan yang dahsyat dan kemaha kuasaan Allah SWT. Namun yang pasti Sidratul Muntaha merupakan destinasi tertinggi dalam perjalanan spiritulitas. Sebagian ahli tasawuf mendefenisikannya dengan situasi “al-fana” bersama kebesaran Allah SWT.

Ada sedikit perbedaan pendapat para ulama tentang apakah Jibril ikut ke atas melewati langit ketujuh atau tidak. Yang pasti di beberapa riwayat perjalanan ke atas memakai kata dengan format majhuul “tsumma ‘urija” (kemudian diangkat”. Ekspresi ini menjadikan sebagian Ulama menyimpulkan bahwa Jibril tidak lagi ikut. Hanya Rasulullah yang diperjalankan. Bahkan sebagian ada yang menambahkan cerita jika Iblis berkata kepada Rasulullah: “naiklah engkau Wahai Muhammad. Saya tidak lagi punya otoritas untuk melampaui ini (langit ketujuh).

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB