opini

Isra’ Mi’raj dan Realita Ummat - 03

Kamis, 30 Januari 2025 | 04:12 WIB
Ilustrasi Isra Miraj (Ahmed Aqtai/pexels.com)

Lima, Buraq dapat dipahami sebagai representasi transendensi. Hal itu dikarenakan kemampuannya melintasi batas-batas fisik dan spiritual.

Enam, Buraq dapat dipahami sebagai penjelasan tentang konsep waktu dan ruang. Hal itu tersimpulkan dari kemampuannya menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu singkat.

Tujuh, Buraq dapat dianggap sebagai simbol kekuatan batin, karena mengantar Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan spiritual.

Delapan, Buraq dapat diibaratkan sebagai representasi kemampuan manusia untuk mencapai tujuan yang tinggi dan melintasi batas-batas diri.

Sembilan, Buraq dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi manusia untuk mencapai tujuan dan pencapaian inovasi yang tinggi.

Namun sekali lagi semua penafsiran di atas adalah penafsiran-penafsiran yang bersifat relatif dan tidak bersifat mutlak. Kemutlakan selalu ada pada keyakinan kita tentang kemaha besaran Allah dalam memperjalanakan hambaNya. Termasuk di dalamnya kekuasaan Allah dalam menyediakan alat transportasi dalam perjalanan itu yang berada di luar nalar manusia.

Artinya pemahaman akal manusia pada akhirnya harus tunduk pada penerimaan iman dan akidah dalam memahaminya.

Bersambung!

New York City, 29 Januari 2025

*Direktur Jamaica Muslim Center / Presiden Nusantara Foundation

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB